Kamis, 25 Februari 2010

First Chapter Novel

* * *
Hari ini hari yang kesekian kalinya aku harus membuat sebuah artikel dari sebuah acara yang menampilkan sebuah penelitian dari seorang professor terkenal yang harus dimasukkan ke majalah LLI, singkatan dari Lifestyle Love Indonesia.

Menjadi seorang wartawan memang harus punya segudang cara untuk mendapatkan sebuah artikel penting seperti ini, meskipun hanya satu artikel saja. Didalam ruangan ini aku harus antusias memperhatikan suasana didalam ruangan ini. Aku juga harus bisa maju kedepan untuk mengambil sebuah pemotretan penting pada professor pencipta alat olah raga terbaru hasil karya pribadinya itu. Hasil karyanya itu ditampilkan didepan para hadirin yang ada diruangan ini, lalu dengan cermat professor yang bernama lengkap Ariyano Fainus Lionando itu menjelaskan manfaat dari alat olah raga yang bentuknya lebih mirip kursi itu.

Aku tak bisa melihat jelas karena didepan ada banyak cameramen dan wartawan lainnya yang sudah memenuhi ruangan depan untuk mendapatkan hasil pemotretan dan mendengarkan penjelasan yang lebih real dari Profesor Nando.

Hari ini sungguh menyebalkan karena aku mesti melakukan pekerjaan ini sendirian, padahal biasanya selalu ada dua wartawan yang selalu bersamaku, tapi karena mereka hari ini ada satu tugas yang berlokasi ditempat yang berbeda, dengan terpaksa aku harus menerima perintah untuk melaksanakan tugas ini sendirian. Aku tak mau menjadi wartawan yang gagal, karena setiap kali aku melakukan tugas bersama kedua temanku aku selalu berhasil, kali ini pun aku juga harus berhasil meskipun hanya seorang diri. Apalagi aku juga tak mau kalau mesti mendengar ceramah dari beruang kutub alias mbak Ine.

Selangkah demi selangkah aku mulai maju kedepan, menyusup diantara orang-orang yang berbadan besar, meskipun aku sudah berusaha semampuku untuk bisa maju kedepan, tapi orang-orang yang berada didepanku ini malah justru semakin mundur, membuat aku harus terpaksa menghindari mereka daripada aku tertimpa badan mereka yang segede gentong ini.

Ahhaa… tiba-tiba muncul sebuah ide untuk bisa menyusup kedepan meksipun butuh perjuangan yang lebih, aku harus merangkak seperti kucing supaya aku bisa menyusup diantara orang-orang ini. Aku pun memulai siasatku, merangkak secara pelan-pelan sambil tetap memperhatikan sekelilingku kali-kali kalau ada orang yang tak sengaja menginjak tangan atau pun salah satu anggota tubuhku yang mungil ini. Aku tak bisa berhenti tersenyum geli sambil terus merangkak untuk maju kedepan.

Dhuugg… tiba-tiba langkah rangkakanku terhenti seketika aku merasa kepalaku tertahan oleh sebuah benda keras, aku mendongak keatas sambil terkejut melihat apa yang aku saksikan sekarang, ternyata bukan sebuah benda yang menahanku disini, melainkan seorang wanita yang mungkin berbobot lebih dari 150 kilo. Aku menabrak kakinya tapi sepertinya ia tak merasakannya karena kulihat matanya masih tertuju kedepan.

Kreecckkk… tiba-tiba rasa sakit yang luar biasa mulai kurasakan dari tangan kiriku, seketika aku langsung menjerit kesakitan karena wanita yang kakinya kutabrak tak sengaja menginjak tangan kiriku ini. Secara otomatis semua mata pun tertuju kepadaku, acara ini seakan terhenti sejenak menyaksikan adegan menyedihkan ini. Ditambah lagi wanita yang tak sengaja menginjak tanganku juga ikut-ikutan menjerit ketika sadar bahwa ia menginjak tangan kiriku. Segera setelah ia sadar kakinya langsung diangkat dan aku pun tergeletak lemas tak berdaya sambil merasakan getaran yang semakin cepat dari tangan kiriku.

"Tolong ada yang bantu nona itu untuk diobati tangannya". Ujar salah seorang menggunakan mikrofon untuk memperjelas kalimatnya yang tak kutahu siapa itu. Mendengarnya tiga lelaki langsung mengangkat tubuhku untuk dibawa keluar dari hotel ini. Mereka kemudian memasukkanku kedalam sebuah mobil, aku sendiri yang merasa kesakitan jadi setengah sadar dan setengah waras.

Perjalanan terasa begitu cepat, mobil yang kami tumpangi berhenti, kemudian dua lelaki diantara tiga lelaki yang membawaku sampai kesini langsung mengajakku keluar dari mobil untuk menuju ke sebuah rumah mewah yang sudah dihadapan kami ini. Aku tak tahu mengapa mereka membawaku kesini, aku yang merasa percaya pun hanya mengikuti apa yang mereka sarankan kepadaku.

Sejak diperjalanan tadi aku terus-terusan memegang erat tangan kiriku sambil menahan rasa sakit yang luar biasa bukan main ini. Aku masih berjalan untuk menuju kedepan pintu rumah mewah tersebut. Setelah sampai tepat didepan pintu besar, salah satu dari kedua lelaki yang mengajakku kesini kemudian mengetok pintu sambil memanggil-manggil nama seseorang.

"Dokter… dokter Zanu… tolong buka pintunya… kami ada perlu dengan anda…".

Tak ada jawaban, mungkin pemilik rumah mewah ini sedang keluar, kudengar ada sebuah mobil berhenti didepan rumah ini, aku dan kedua lelaki yang masih berada disampingku ini pun menoleh ke arah suara mobil tersebut. Seorang lelaki beperawakan tinggi, berkulit kuning langsat dan berwajah hampir-hampir mirip orang korea itu keluar dari mobil tersebut.

"Dokter, kami mau minta bantuan, tangan gadis ini terluka dan harus diobati".

Pemuda itu hanya tersenyum sambil berjalan menuju ke arah kami, aku seperti tak asing dengan wajah pemuda yang dipanggil Dokter Zanu ini. Ia masih muda, mungkinkah benar ia sudah resmi menjadi seorang dokter? Tapi aku masih belum yakin dengan kemampuannya mengobati seseorang. Bisa-bisa jika tanganku diobati olehnya bukannya sembuh malah patah tulang. Oh no… aku tak ingin hal itu terjadi pada tanganku.

"Silkan masuk ke rumahku". Ajak pemuda tersebut sambil membuka pintu rumahnya.

"Maaf dok, kami hanya mengantar gadis ini, karena kami masih ada urusan lain diluar sana".

"Begitu ya, baiklah aku akan mengobatinya".

Kedua lelaki itu kemudian beranjak dari teras rumah mewah ini, aku mencoba mencegah mereka karena aku masih belum percaya dengan dokter ini. Tapi mereka masih membiarkan dokter ini yang mengobati lukaku. Bahkan aku merasa dokter ini bukan seorang dokter sungguhan, melainkan dokter gadungan. Apalagi dilihat dari fisiknya yang masih muda, mungkin usianya belum ada 25 tahun, membuat aku semakin ragu saja.

"Hey… ayo masuk, ngapain masih berdiri disitu?".

"I… iya…".

Dengan penuh rasa penasaran aku pun mengikuti langkah dokter tersebut, aku ingin tahu apakah ia benar-benar bisa mengobatiku. Tapi awas saja jika lukaku ini semakin parah, tak segan-segan aku akan menuntutnya.

"Kau duduk dulu disini, biar aku mengambil obatnya".

Mengambil obat? Memangnya dia sudah tahu lukaku… melihatnya saja belum. Jangan-jangan dia bisa menerawang penyakit orang lain lagi. Ah… nggak mungkin, mungkin memang karena ia seorang dokter, jadi bisa langsung tahu penyakit seseorang tanpa melihat lukanya. Eh tapi… itu juga nggak mungkin, terlalu hebat jika ia bisa seperti itu.

"Coba lihat tanganmu?".

Aku pun mengulurkan tanganku setelah sang dokter kembali ke ruang tamu ini, ia memijat pergelangan tangan kiriku. Kurasakan kesakitan yang cukup dahsyat, apalagi ketika tanganku diplintar cepat secara singkat, membuat suasana hatiku seakan mati sesaat, nyawaku seperti ikut terplintar.

"Kau gila ya… ini tangan, bukan jemuran yang harus diplintar untuk mengurangi airnya".

Sang dokter hanya tersenyum, aku tak tahu maksud dari senyumannya itu menandakan ia mengejekku atau ia hanya ingin tersenyum karena kalimatku yang lucu. Dokter itu terlihat santai memijat-mijat tanganku, aku tak bisa apa-apa kecuali menahan rasa sakit ini. Sesekali ia mengoles sesuatu ketanganku, tapi aku tak tahu krim apa itu.

"Sebenarnya kau dokter sungguhan atau hanya status saja si? Masa cuman dioles dan dipijat-pijat gini, nggak diperban sekalian".

"Jangan banyak bergerak, tulang tanganmu bisa patah".

"Apa? Patah?".

Dokter itu tak menjawab perkataanku, padahal aku benar-benar terkejut karena ucapannya itu, aku tak mau tulang tanganku patah, bagaimana dengan pekerjaanku, kemampuanku hanya dibidang itu. Aku tak bisa membiayai kuliahku jika aku berhenti bekerja.

Artikel dan photonya? Aku belum mendapatkannya karena masalah ini, bagaimana jika beruang kutub itu bertanya, lalu aku harus menjawab apa? Aku tak mungkin berbohong, tapi jika aku jujur, pekerjaanku taruhannya.

Oh my god… aku tak bisa membayangkan hidupku akan kluntang-klantung karena tak bisa membiayai kebutuhanku.

"Selesai…".

Selesai…? Padahal baru sebentar aku melamun, tapi ia sudah main selesai saja mengobati lukaku, aku ragu apakah benar ia seorang dokter.

"Kok nggak diperban?".

"Jadi kamu berharap lukamu lebih parah sehingga harus diperban".

"Ya nggak gitu... Aku ragu dengan predikat doktermu, aku ingin melihat sertifikatnya, ijazah atau apa saja sebagai tanda bukti bahwa kamu benar-benar seorang dokter".

"Sekarang kau boleh pulang karena aku sudah mengobati lukamu".

"Aku akan pulang setelah kau menunjukkan buktinya".

Pemuda tersebut kemudian membereskan apa saja yang ia ambil tadi untuk mengobati lukaku kemudian menuju kedalam. Aku mengikutinya dari belakang dengan langkah mengimbanginya.

"Hey… jalannya nggak bisa pelan sedikit apa".

"Siapa suruh kau mengikutiku".

"Bukannya kau ingin menunjukkan bukti bahwa kau memang seorang dokter".

Pemuda itu tak menjawab, justru ia berbalik arah sambil tersenyum, aku pun ikut berbalik arah untuk mengikutinya.

"Kau masih ingat jalan pulang kan? Pintunya masih disana". Ujarnya ketika ia berhenti sambil menunjuk ke pintu depan.

"Tunjukkan dulu buktinya kepadaku".

Bukannya menjawab ataupun memberikan bukti, dia malah menarik tanganku menuju keluar dari rumahnya ini.

"Hey… lepas, aku tak mau pulang sebelum kau membuktikannya padaku".

Ia berhenti, kemudian melepas tanganku, aku terkejut melihat sosok seorang wanita yang tengah berdiri didepan pintu yang terbuka ini.

"Mbak Alya".

Wanita itu ikut terkejut mendengar aku menyebutkan namanya, aku tak tahu apa yang mbak Alya lakukan disini, mungkinkah mbak Alya mengenal pemuda ini.

"Sedang apa kau disini Vi?".

"A… aku…".

Aku tak bisa melanjutkan ucapanku karena pemuda yang mengaku sebagai dokter ini terlanjur memotong kalimatku.

"Siapa kau?".

"Hey Zan… aku membawakan sesuatu untukmu, sudah lama kan kau tinggal diluar negeri, pasti kau ingin merasakan buah dari negeri ini. Aku ingin mewawancaraimu pagi ini".

"Dengan merayuku membawakan beberapa buah dari negeri ini kemudian membuat alasan tangannya terluka hanya untuk mewawancaraiku. Sabaiknya urungkan niat kalian, aku tak mau diwawancarai, keluar… keluar dari rumahku". Jelas pemuda ini sambil mendorongku keluar dari rumahnya.

"Aku kira sepulang dari paris sifat tertutup dan bencimu terhadap dunia entertainment sudah berubah, ternyata masih melekat dalam diri seorang dokter sekaligus koki bernama Zanu Prayoga Ardiansyah".

"Apa kau bilang? Dokter sekaligus koki Zanu…".

"Diam kau!".

Belum sempat melanjutkan kalimatku, mbak Alya sudah memotongnya. Sungguh benar, menjadi bawahan itu tak enak karena selalu dibentak-bentak dan sering mendapatkan perlakuan rendah dan semena-mena dari atasan, sekalipun tak melakukan kesalahan.

Tapi aku tetap terkejut mendengar kalimat mbak Alya yang menjelaskan siapa pemuda yang ada dihadapan kami ini, seorang dokter sekaligus koki hebat yang saat ini menjadi incaran para wartawan untuk dimasukkan kedalam majalah maupun Koran. Seseorang yang selalu dikejar-kejar karena kehebatannya dibidang memasak. Aku baru ingat bahwa mbak Alya memang ditugaskan mbak Ine untuk mewawancari seorang dokter sekaligus koki yang bernama Zanu Prayoga, dan aku baru sadar bahwa wajah pemuda ini tak asing bagiku karena aku pernah melihatnya dibeberapa majalah.

Hmmm… jadi berita utama yang dibutuhkan oleh para penikmat majalah untuk bulan ini adalah tentang resep masakan-masakan pemuda ini yang selalu bervariasi dan menunjukkan kelezatannya melalui bentuknya.

"Beri aku waktu lima menit untuk mewawancaraimu".

"Sebaiknya kalian kembali".

Jedorrr… pemuda itu langsung menutup pintu rumahnya, mbak Alya pun kemudian mengajakku kembali.

"Kau, bukannya kau harus membuat artikel tentang professor Nando? Kenapa kau malah disini".

Deg! Aku tak tahu harus menjawab bagaimana, aduh… kepalaku jadi pusing, aku tak mampu menjelaskannya, gara-gara terluka tugas hari ini jadi gagal.

"Kenapa kau diam?".

"Maaf mbak, tadi waktu aku menghadiri acara itu, tanganku terluka karena diinjak oleh salah satu hadirin dan harus diobati disini".

"Jadi kau…".

"Iya mbak, aku mohon maaf sekali mbak, lagi pula ini bukan keinginanku".

"Akan membuat alasan apa kau didepan mbak Ine".

"Itu dia mbak yang aku bingung".

"Kau ini, sudah diangkat menjadi asisten pribadiku masih belum cekatan. Sekarang hanya ada tiga pilihan untukmu".

"Apa mbak?".

"Dipecat, mati atau mewawancarai koki Zanu".

Mbak Alya langsung menghilang begitu saja setelah memberikan tiga pernyataan itu kepadaku. Aku tak mau berhenti, apalagi mati, berarti aku harus memilih untuk mewawancarai dokter itu. Apa mungkin aku akan berhasil? Sedang sifatnya saja sudah seperti itu, tak mau diwawancari oleh mbak Alya, apalagi kalau aku yang mewawancarainya, ia pasti akan menendangku.

Sekarang aku baru percaya bahwa ia memang seorang dokter, bahkan aku benar-benar terkejut ketika mendengar pernyataan mbak Alya. Tapi memang sangat dikagumkan melihat seorang pemuda berbakat seperti dirinya, meskipun usianya masih terbilang muda. Setahuku aku melihatnya di majalah baru beberapa bulan yang lalu, dan ketika aku membaca sebuah artikel tentang dirinya, usianya kalau nggak salah 25 tahun, jika usiaku sekarang sudah 21 tahun, maka dia lebih tua 4 tahun dariku.

Mungkin nggak ya diusiaku yang sama dengannya nanti, aku akan menjadi orang yang hebat seperti dirinya. Atau mungkin aku akan menjadi wartawan dan asisten mbak Alya seumur hidupku? Ah… sepertinya aku terlalu berkhayal untuk menjadi orang yang hebat.

* * *

Ruangan yang hanya untuk seorang manager di sebuah PH, mbak Alya alias pemimpin di PH tersebut masuk kedalam ruangan sang manager.

"Bagaiamana wawancaramu dengan koki Zanu".

"Saya sudah menyuruh asisten saya untuk melaksanakan tugas itu manager".

"Apa? Kau panggil aku manager? Bukannya beruang kutub".

Mbak Alya hanya bisa terdiam mendengar kalimat mbak Ine yang memang sifatnya seperti beruang kutub itu, dingin tapi galaknya minta ampun, tak segan-segan menceramahi anak buahnya sampai berjam-jam.

"Apa yang bisa dilakukan asistenmu yang baru lulus SMA itu".

"Dia sudah kuliah".

"Alaah… apapun itu aku tak suka kalau gadis itu yang mewawancarainya, kemampuannya itu apa? Kalau tak ada wartawan yang membantu ia tak mungkin bisa membuat satu artikel tentang orang-orang penting yang ada di negeri ini".

"Manager tenang saja, aku yakin ia pasti berhasil".

"Oke… terserah kau asal dalam tiga minggu ini kau dan asistenmu harus sudah memberikan hasil wawancara itu kepadaku sebelum direktur memintanya".

"Pasti manager".

"Sekarang kau boleh keluar dari ruangan ini… oh ya, satu lagi, bagaimana hasil wawancara profesor nando kemarin? Siapa yang menghadiri acara itu?".

Mbak Alya yang tadinya akan segera keluar dari ruangan mbak Ine langsung berhenti dengan ekspresi wajah sedikit murung.

"Asisten saya yang menghadiri acara professor Nando, tapi karena tangan kirinya tergelintir, jadi semuanya gagal".

"Hah… harusnya kau tak mengangkatnya sebagai asistenmu, lalu kemana yang lainnya? Mengapa kau tak menyuruh yang lainnya saja untuk menghadiri acara itu. Ini benar-benar kacau… kacau…".

"Maaf manager, yang lainnya sudah mendapat tugas berbeda di lokasi yang berbeda".

"Menyedihkan, beri asistenmu tiga pilihan, berhenti, mati atau memberi hasil mewawancara koki itu".

Ucapan sang manager sama seperti ucapan mbak Alya kemarin, mungkin mbak Alya terinspirasi dari sang manager untuk mengikuti gaya bicaranya.

"Sekarang kau boleh keluar".

Mbak Alya pun kemudian keluar dari ruangan manager yang bernama mbak Ine itu, lalu meninggalkan tempat ini untuk menuju ke sebuah tempat yang berbeda. Dari raut wajah mbak Alya, terlihat sekali mbak Alya sangat kesal, apalagi setelah sarapan omelan dari sang penyunting, menambah rasa bad moodnya semakin tinggi.

Aku yang baru sampai di parkiran untuk memarkirkan motorku tiba-tiba dihampiri oleh mbak Alya.

"Vian, kau harus berhasil mendapatkan wawancara koki itu, bagaimana pun caranya, sekarang kau pergi ke tempatnya untuk mendapatkan hasil wawancaranya".

"Apa mbak? Sekarang? Tapi aku…".

"Sekarang atau kau pilih dipecat?".

"I… iya mbak, sekarang aku akan menju kesana untuk mendapatkan hasil wawancaranya".

Baru sampai ditempat aku harus harus meninggalkan tempat ini untuk menuju ke tempat koki itu. Tapi aku tak bisa menolaknya, aku tak mau dipecat. Aku segera melaju dengan menggunakan motor mioku ini untuk menuju ke tempat koki itu, untungnya kemarin pagi aku dari rumahnya, jadinya aku masih ingat jalan menuju ke rumahnya.

Sekitar hampir setengah jam aku sudah mengendarai sepeda motorku untuk menuju ke rumah koki itu. Dan akhirnya aku pun sampai ditempat tujuan. Aku segera menghentikan motorku kemudian turun dan mendekat ke rumah koki itu.

Tempatnya tak sesepi kemarin pagi, ada banyak cameramen, ada banyak wartawan juga yang berada dihalaman rumah sampingnya itu, tapi aku tak melihat ada koki Zanu disana. Aku menghampiri keramaian itu untuk memastikan keberadaan koki Zanu. Oh… ternyata ia sedang bersantai ria sambil duduk di kursi dekat dengan kolam renangnya.

Aku menghampirinya dengan menunjukkan wajah selalu tersenyum didepan semua orang, aku tak mau terlihat kusud hanya karena terpaksa menemuinya untuk mendapatkan hasil wawancara pagi ini, tapi aku harus bisa mendapatkannya atau aku akan dipecat.

"Pagi dokter… maksudku koki Zanu, apa kabar?".

Rasanya kiku sekali mengatakan hal yang basa basi seperti ini didepan koki Zanu, apalagi sama sekali ia seperti tak menganggap kehadiranku.

"Koki Zanu…".

"Apa yang kau lakukan disini". Aku tersenyum mendengar balasannya.

"Aku ingin mewawancarai anda".

Koki Zanu berjalan pelan menuju kesana kemari, aku yang ingin mendapatkan wawancaranya pun harus mengikutinya dari arah samping, kiri dan depan. Aku tak mau kehilangan jejaknya, karena aku harus mendapatkan wawancara darinya.

"Aku ingin mewawancarai anda pagi ini, tolong beri aku waktu sebentar".

"Aku tak ingin diwawancarai".

"Aku mohon dokter, ini menyangkut pekerjaanku, jika aku tak berhasil mewawancarai anda, aku pasti akan dipecat".

"Itu bukan urusanku".

"Aku mohon dokter, lima menit saja, tiga menit, ya udah satu menit".

Dokter sekaligus koki Zanu itu hanya meringis mendengar kalimatku, harusnya ia menjawabnya, bukannya meringis seperti itu, tak tahu banget deh kalau aku ini membutuhkan bantuannya.

"Bagaimana dok? Mau kan?".

"Ambil ini".

Tiba-tiba koki Zanu memberikan berbagai macam sayuran di keranjang kepadaku. Ough… aku tak kuat menahan beban sayuran seberat ini.

"Apa ini?".

"Apa kau bisa memasak?".

"Tidak".

"Untuk mendapatkan hasil masakan yang sempurna, kau harus mencuci semua sayuran itu sampai bersih, jangan sampai ada sedikit pun kuman yang menempel disayuran itu, meskipun hanya setitip jarum benang, karena akan merusak rasa dalam sebuah masakan".

Huh… panjang bener penjelasannya, membuat aku bingung, aku harus membersihkan seisi keranjang sayuran ini sampai bersih, ya Tuhan… malang nian nasibku, ini akan membutuhkan waktu lebih dari sehari untuk membersihkannya, apalagi daun bawang yang penuh dengan tanah ini, ih… aku tak suka dengan baunya.

"Kenapa masih diam disini, ayo bersihkan".

"I.. iya, akan aku bersihkan sekarang".

Hah… apa hubungannya coba mewawancarai dengan membersihkan semua sayuran didalam keranjang besar ini. Aku harus menuju ke tempat yang bisa memberikan aliran air untuk membersihkan semua sayuran ini.

Aku tahu, didepan pasti ada tempat untuk mencuci mobil dan biasanya ada kerannya, dan pasti juga ada selangnya.

Aku segera menuju kedepan untuk mencari keberadaan tempat pencucian mobil, aku beruntung karena tebakanku ternyata benar. Aku mengambil selang yang masih berada dilokasi ini lalu kumasukkan ke ujung keran. Aku pun langsung menghidupkan kerannya, kemudian menyiram seluruh sayuran yang ada di keranjang ini.

Jika dipikir berulang kali, seumur hidup aku tak pernah membersihkan sayuran sebanyak ini, jika disuruh memilih aku tak mau bekerja sebagai pembantu di rumah sebesar ini, menyusahkan saja. Menjadi wartawan saja sudah mendapatkan pekerjakan seberat ini, apalagi jika harus menjadi pembantu. Harus memberereskan rumah sebesar ini, memasak, mencuci pakaian, itu akan sulit bagiku.

Hmm… aku harus membersihkan sayuran-sayuran ini sampai bersih, dimulai dari terong ini, kemudian brokoli, kembang kol, tomat, wortel, lalu daun bawang ini. Iih… sama sekali aku tak suka dengan baunya. Membersihkan akar-akar yang masih banyak tanahnya ini menggunakan sikat sekecil ini.

"Ayo… sikat sikat sikat". Bisikku.

"Membersihkan sayuran harus dengan perasaan, jangan kasar gitu".

Tiba-tiba sang koki sudah berada dibelakangku, huff… mengagetkanku saja, bukannya dibantuin malah hanya dilihatin.

"Apa aku harus membersihkan semua sayuran ini? aku kan mau mewawancaraimu, kenapa malah disuruh membersihkan sayuran sebanyak ini. Lebih baik kau suruh aku mengupas atau pun mengiris wortel saja daripada membersihkan sayuran sebanyak ini. Lagi pula apa hubungannya antara wawancara dengan membersihkan semua sayuran ini".

"Jangan banyak tanya, kalau sudah selesai segera temui aku".

Hah… seenaknya saja pemuda itu menyuruhku, ia pikir aku pembantunya. Tapi aku tak boleh menyerah, apapun akan aku lakukan untuk mendapatkan wawancaranya. Dan setelah pekerjaan ini sudah kuselesaikan, mau tidak mau koki itu harus kuwawancarai.

* * *

Haduh… punggungku… nggak bisa digerakkan gara-gara terlalu lama duduk, hampir seharian aku duduk dalam posisi yang tak berubah. Susah sekali untuk berdiri, rasanya tulang belakangku seperti mau patah, aku nggak kuat jika harus mengangkat keranjang sayuran ini sendirian.

Kebetulan, koki itu ada disitu, lebih baik aku memanggilnya daripada harus berjalan menghampirinya dengan langkah bongkok seperti ini.

"Dokter Zanu… Dokter Zanu…".

Hah… dia tak menoleh sama sekali, pantes… kupingnya disumpeli pakai earphone gitu, kupanggil seratus kali pun kagak bakalan denger. Terpaksa aku harus menghampirinya, kemudian memberitahukan kepadanya bahwa aku sudah selesai membersihkan semua sayurannya.

"Dokter". Tegurku sambil memegang pundaknya, aku tertawa ketika dokter ini terkejut melihatku.

"Kau ini… kenapa kau berdiri seperti itu?".

Hah… pura-pura nggak tahu lagi kalau aku sudah bongkok begini karena sejak tadi pagi duduk tanpa berpindah tempat, mana sang dokter ini masih bisa tertawa melihat wajahku yang seperti ini lagi, benar-benar tak punya perasaan.

"Aku sudah membersihkan semua sayuran".

"Bagus, sekarang kau bawa sayuran itu kepadaku".

"Apa? Dalam keadaan seperti ini kau tega menyuruhku untuk mengangkat keranjang sayuran itu sendirian?".

"Menjadi seorang koki itu harus kuat, nggak boleh lelet kayak kamu gini, sudah sana ambil sayuran itu dan bawa kesini".

"Aku nggak mau".

"Ya sudah kalau nggak mau dapet wawancaraku".

"Ha…? Iya iya aku akan bawa keranjang itu ke kamu".

Huh… menyebalkan sekali pemuda ini, sudah tahu aku bongkok kayak gini, masih disuruh mengangkat keranjang itu untuk dibawakan kepadanya lagi, sungguh tak punya perasaan.

Haduh… punggungku… benar-benar sakit, aku harus tahan dalam dituasi seperti ini, tapi apa hubungannya denganku coba, menjadi koki itu harus kuat. Hah… aku kan bukan sedang belajar menjadi seorang koki, kenapa ia menjelaskan kepadaku layaknya menjelaskan kepada seorang anak buahnya yang ingin menjadi koki, sungguh menyebalkan.

Aku harus mengangkat keranjang ini sendirian, aduh… aku benar-benar nggak kuat, seharusnya pemuda itu yang kesini, bukannya aku yang membawa keranjang ini kepadanya.

"Biar aku bantu".

Tiba-tiba seorang lelaki berdiri tepat dihadapanku, waw… wajahnya begitu tampan, aku benar-benar terpesona didalam senyumannya.

"Biar aku saja yang mengangkatnya, memangnya mau dibawa kemana sayuran ini".

"Emm… ke dokter Zanu".

Pemuda keren yang ada dihadapanku ini pun kemudian mengangkat keranjang sayuran ini. Oh… sungguh aku mendapatkan keberuntungan didalam kesialanku hari ini.

"Kenapa kau berjalan seperti itu?".

"Hmm…??? Emm…???". Aku tak mampu menjawabnya.

"Punggungmu sakit?".

"He’em".

"Pasti kecapaian karena membersihkan semua sayuran ini ya?".

"Kok tahu?".

"Baju dan celanamu basah".

"Ough… iya".

"Koki Zanu, ini sayurannya".

Dokter Zanu pun menoleh ke arah kami, ia terkejut seketika melihat yang membawa keranjang sayuran itu bukanlah aku, melainkan pemuda disampingku ini.

"Kenapa kau yang membawanya? Harusnya kan wartawan ini".

"Nggak apa-apa adikku, kasihan, dia nggak kuat kalau mesti mengangkat keranjang ini sendirian".

Apa? Pemuda ini memanggil dokter Zanu adik? Oh my god… jadi mereka bersaudara, tapi sifat mereka sangat berbeda. Pemuda ini terlihat baik, padahal aku tak mengenalnya, tapi ia sudah mau menolongku mengangkat beban itu. Lalu dokter Zanu, padahal ini kedua kalinya aku bertemu dengannya, tapi dia masih pelit saja untuk memberikan wawancaranya kepadaku.

"Jadi kalian bersaudara?".

"Iya, kenalkan… aku Levi Prayoga Ardiansyah, kakaknya Zanu Prayoga Ardiansyah".

"Tunggu, sepertinya aku pernah mendengar nama itu".

Benar… aku sepertinya pernah mendengar nama itu, Levi Prayoga Ardiansyah, ya Tuhan… aku baru ingat bahwa pemuda disampingku ini adalah seorang pelukis terkenal yang pernah belajar melukis di luar negeri. Kenapa aku bisa lupa, ternyata dia lebih tampan dari foto yang sering tersebar di Koran-koran maupun majalah. Mimpi apa aku semalam bisa bertemu orang-orang hebat seperti dokter Zanu dan Mr. Levi.

Yah… orang-orang sering memanggilnya Mr. Levi karena sifatnya yang ramah dan bisa dijadikan peniru layaknya seorang guru.

Aku benar-benar baru tahu kalau mereka bersaudara, setahuku dokter Zanu anak tunggal, begitupun juga Mr. Levi. Mungkin karena disetiap artikel tak pernah dijelaskan bahwa mereka bersaudara, dan pasti itu yang menjadikan aku maupun orang lain tak tahu bahwa mereka sebenarnya bersaudara.

"Hey… hanya kau yang tahu bahwa kami bersaudara, jadi jangan sekali-kali kau ceritakan ke orang lain".

"Memangnya kenapa?". Tanyaku pada dokter Zanu yang baru saja menjelaskan bahwa aku tak boleh menceritakannya ke orang lain.

"Kalau kau banyak tanya, aku tak akan mau kau wawancarai".

"Iya iya… aku nggak akan tanya-tanya lagi sama kamu, tapi kalau sama Mr. Levi boleh kan?".

"Nggak boleh juga".

Hah… kenapa semuanya jadi serba nggak boleh si, padahal Mr. Levi tersenyum manis padaku, mungkin saja ia membolehkanku mengajukan pertanyaan kepadanya.

"Jadi kapan kau mau kuwawancarai?".

"Besok kau kesini lagi".

"Beneran ya? Awas kalau bohong, aku juga sudah kecapaian karena hampir seharian membersihkan sayuran itu sendiri, aku pulang dulu".

"Eh… siapa suruh kau pulang".

"Lah… dokter tadi menyuruhku agar besok datang lagi".

"Tapi bukan berarti aku menyuruhmu pulang".

"Sudahlah Zan… kasihan gadis ini kecapaian, biar ia istirahat, jangan kau buat dirinya semakin kelelahan".

"Ya sudah kalau gitu, kau pulang sana".

Huh… sinis banget si Dokter Zanu ini, kenapa ia tak bisa bersikap formal seperti kakaknya ini, kalau saja dia bukan orang penting yang akan aku wawancarai, dan kalau saja taruhan wawancara ini bukan pekerjaanku, sudah kugibas habis dirinya.

"Kenapa kau masih disini?".

"Hmm… iya, ini juga udah mau pulang kok".

"Perlu diantar?".

"Ha…? Mr. mau mengantar aku pulang?".

"Dia udah bawa kendaraan sendiri kak, biar dia pulang sendiri".

Hmmh… lagi-lagi pemuda yang bernama dokter Zanu ini merusak kesenanganku, emang kenapa si kalau Mr. Levi mengantarku pulang, toh juga tak merugikan dirinya kan. Tapi… bagaimana dengan kendaraanku kalau aku diantar Mr. Levi, bakalan nggak ada yang mengantarkan ke rumahku dong, kalau sampai dibiarkan hilang bisa rugi aku. Mungkin memang sudah seharusnya aku melakukan pekerjaanku sendiri tanpa bantuan orang lain, ya seperti ini, harus pulang sendiri dengan kendaraan sendiri tanpa diantar orang lain.

Rabu, 17 Februari 2010

Puisi Cinta

C I N T A ...

Fire.gif

Tuhan....
Saat aku menyukai seseorang
Ingatkanlah aku bahwa akan ada sebuah akhir
Sehingga aku tetap bersama Yang Tak Pernah Berakhir

Tuhan.....
Ketika aku merindukan seorang kekasih
Rindukanlah aku kepada yang rindu Cinta Sejati Mu
Agar kerinduanku terhadap - Mu semakin menjadi

Tuhan.......
Jika aku hendak mencintai seseorang
Temukanlah aku dengan orang yang mencinatai - Mu
Agar bertambah kuat cintaku pada - Mu

Tuhan......
Ketika aku sedang jatuh cinta
Jagalah cinta itu
Agar tidak melebihi cintaku pada - Mu

Tuhan....
Ketika aku berucap aku cinta pada - Mu
Biarlah kukatakan kepada yang hatinya tertaut pada - Mu
Agar aku tak jatuh dalam cinta yang bukan karena - Mu

Sebagaimana orang bijak berucap
Mencintai seseorang bukanlah apa - apa
Dicintai seseorang adalah sesuatu
Dicintai oleh orang yang kau cintai sangatlah beratti
Tapi dicintai oleh Sang Pencinta adalah segalanya


Fire.gif


Kata-Kata Mutiara

* * *

Baik jadi orang penting, lebih penting jadi orang baik.

Berbicara dengan seorang pengembara, bagaikan berbicara dengan angin, belum selesai bercerita, sang pengembara sudah pergi berkelana.

Berjalan diatas khayalan, laksana menggapai mahligai berduri. "Rame ing Gawe, Sepi ing Pamrih". Menyelam dilautan tak bertepi,mencari untaian yang sejati.

Kebahagiaan dunia hanyalah tipuan, orang-orang yang tertipu adalah orang-orang yang telah memilih kebahagiaan itu.

Yang lalu biarlah berlalu... yang akan datang tak terbayangkan. Jadikan masa lalu sebagai pelajaran, waktumu tinggal sedikit untuk menyadari dan membenahinya.

Ukiran huruf yang tertulis adalah cerminan kepribadian. jagalah agar tercipta keindahan seni didalam setiap kata yang teruntai, bagaikan sutra berajutkan mutiara.

Sejuta serat sutra memperindah busana, gemerlapnya mutiara memperindah kata. Terangnya cahaya tunjukkan langkah kita, jangan tutupi terangnya cahaya dengan awan kemunafikan..

Jujurlah pada hatimu, kebahagiaan bersumber dari diri sendiri, jangan berharap dari orang lain, karna orang lain bisa menghianati.

Kebahagiaan manusia ada bila dia mau membuka mata hatinya dan menyadari bahwa dia memilikibanyak hal yang berarti, dan menyadari betapa ia di "Cintai".

Jangan kau guyur hatimu jika kau merasakan kepanasan. jangan pula kau panaskan tubuhmu jika kau merasakan kedinginan. lakukan setelah semua tiada pasti akan kamu rasakan apa yang kau kehendaki selalu.

janganlah berteduh dari terik matahari, sebelum mampu merasakan sengatannya.

Dikala malam menjelang, gelap menyelimuti, walau keindahannya begitu nyata,tapi terkadang kita enggan tuk menikmatinya, karna kebutaan yang ada, sedang kita tak menyadarinya, hanya keluh kesah yang ada, sesal tak berguna.

Seseorang yang mudah melupakan masa lalunya adalah cermin kesombongan diri dan egois.

Tujuan akan tercapai hanya dengan jerih payah. dan kemuliaan akan tercapai hanya dengan adab dan sopan santun.

Hari kemarin adalah kenangan.
Hari ini adalah kenyataan.
Dan hari esok adalah harapan.
Apakah umur kita akan menjamin dihari depan.

Dengan ilmu, seni kita indah.dengan ilmu, kita cerah. dan dengan agama hidup kita terarah.

Suatu keindahan itu tidak dilihat dari sebrangkas kosmetik yang digunakan untuk berhiasataupun pakaian yang kita kenakan.tapi keindahan itu terlihat dari budi pekerti dan akhlak yang baik.

Janganlah engkau mengatakan "Ya" jika hatimu berkata "Tidak", dan janganlah mengatakan "Tidak" jika hatimu berkata "Ya". Itu mah namanya munafik tau.

Jika kita mencintai seseorang, kita akan senantiasa mendo'akannya walaupun dia tidak berada disisi kita.

Cinta datang kepada orang yang masih mempunyai harapan, walaupun mereka telah dikecewakan. Kepada mereka yang masih percaya, walaupun mereka telah dikhianati. Kepada mereka yang masih ingin mencintai, walaupun mereka telah disakiti sebelumnya dan Kepada mereka yang mempunyai keberanian dan keyakinan untuk membangunkan kembali kepercayaan.

Jangan simpan kata-kata cinta pada orang yang tersayang sehingga dia meninggal dunia lantaran akhirnya kamu terpaksa catatkan kata-kata cinta itu pada pusaranya. Sebaliknya ucapkan kata-kata cinta yang tersimpan dibenakmu itu sekarang selagi ada hayatnya.

Mungkin Tuhan menginginkan kita bertemu dan bercinta dengan orang yang salah sebelum bertemu dengan orang yang tepat, kita harus mengerti bagaimana berterimakasih atas karunia tersebut.

Cinta dapat mengubah pahit menjadi manis, debu beralih emas, keruh menjadi bening, sakit menjadi sembuh, penjara menjadi telaga, derita menjadi nikmat dan kemarahan menjadi rahmat.

Sungguh menyakitkan mencintai seseorang yang tidak mencintaimu, tetapi lebih menyakitkan adalah mencintai seseorang dan kamu tidak pernah memiliki keberanian untuk menyatakan cintamu kepadanya.

Hal yang menyedihkan dalam hidup adalah ketika kamu bertemu seseorang yang sangat berarti bagimu, hanya untuk menemukan bahwa pada akhirnya menjadi tidak berarti dan kamu harus membiarkannya pergi.

Kadangkala kamu tidak menghargai orang yang mencintai kamu sepenuh hati, sehingga kamu kehilangannya. Pada saat itu, tiada guna penyesalan karena perginya tanpa berkata lagi.

Cintailah seseorang itu atas dasar siapa dia sekarang dan bukan siapa dia sebelumnya. Kisah silam tidak perlu diungkit lagi, kiranya kamu benar-benar mencintainya setulus hati.

Hati-hati dengan cinta, karena cinta juga dapat membuat orang sehat menjadi sakit, orang gemuk menjadi kurus, orang normal menjadi gila, orang kaya menjadi miskin, raja menjadi budak, jika cintanya itu disambut oleh para pecinta PALSU.

Kemungkinan apa yang kamu sayangi atau cintai tersimpan keburukan didalamnya dan kemungkinan apa yang kamu benci tersimpan kebaikan didalamnya.

Cinta kepada harta artinya bakhil, cinta kepada perempuan artinya alam, cinta kepada diri artinya bijaksana, cinta kepada mati artinya hidup dan cinta kepada Tuhan artinya Takwa.

Lemparkan seorang yang bahagia dalam bercinta kedalam laut, pasti ia akan membawa seekor ikan. Lemparkan pula seorang yang gagal dalam bercinta ke dalam gudang roti, pasti ia akan mati kelaparan.

Seandainya kamu dapat berbicara dalam semua bahasa manusia dan alam, tetapi tidak mempunyai perasaan cinta dan kasih, dirimu tak ubah seperti gong yang bergaung atau sekedar canang yang gemericing.

Cinta adalah keabadian ... dan kenangan adalah hal terindah yang pernah dimiliki.

Siapapun pandai menghayati cinta, tapi tak seorangpun pandai menilai cinta karena cinta bukanlah suatu objek yang bisa dilihat oleh kasat mata, sebaliknya cinta hanya dapat dirasakan melalui hati dan perasaan.

Cinta mampu melunakkan besi, menghancurkan batu, membangkitkan yang mati dan meniupkan kehidupan padanya serta membuat budak menjadi pemimpin. Inilah dahsyatnya cinta.

Cinta sebenarnya adalah membiarkan orang yang kamu cintai menjadi dirinya sendiri dan tidak merubahnya menjadi gambaran yang kamu inginkan. Jika tidak, kamu hanya mencintai pantulan diri sendiri yang kamu temukan didalam dirinya.

Kamu tidak akan pernah tahu bila kamu akan jatuh cinta. Namun apabila sampai saatnya itu, raihlah dengan kedua tanganmu dan jangan biarkan dia pergi dengan sejuta rasa tanda tanya dihatinya.

Cinta bukanlah kata murah dan lumrah dituturkan dari mulut kemulut tetapi cinta adalah anugerah Tuhan yang indah dan suci jika manusia dapat menilai kesuciannya.

Bercinta memang mudah, untuk dicintai juga memang mudah. Tapi untuk dicintai oleh orang yang kita cintai itulah yang sukar diperoleh.

Jika saja kehadiran cinta sekedar untuk mengecewakan, lebih baik cinta itu tak pernah hadir. Cinta sebenarnya tidak buta. Cinta adalah sesuatu yang murni, luhur dan diperlukan.

Yang buta adalah bila cinta itu menguasai dirimu tanpa suatu pertimbangan.

Bukan laut namanya jika airnya tidak berombak, bukan cinta namanya jika perasaan tidak pernah terluka, bukan kekasih namanya jika hatinya tidak pernah merasa rindu dan cemburu.

Cinta bukanlah dari kata-kata tetapi dari segumpal keinginan diberi pada hati yang memerlukan. Tangisan juga bukanlah pengobat cinta karena ia tidak mengerti perjalanan hati nurani.

Kejarlah cita-cita sebelum cinta, apabila tercapainya cita-cita maka dengan sendirinya cinta itu akan hadir.

Cinta seringkali akan lari bila kita mencari, tetapi cinta jua seringkali dibiarkan pergi bila ia menghampiri.

Cinta pertama adalah kenangan, Cinta kedua adalah pelajaran, dan cinta yang seterusnya adalah satu keperluan, karena hidup tanpa cinta bagaikan masakan tanpa garam. Karena itu jagalah cinta yang dianugerahkan itu sebaik-baiknya agar ia terus mekar dan wangi sepanjang musim.

Kecewa bercinta bukan berarti dunia sudah berakhir. Masa depan yang cerah berdasarkan pada masa lalu yang telah dilupakan. Kamu tidak dapat melangkah dengan baik dalam kehidupan kamu sampai kamu melupakan kegagalan kamu dan rasa kekecewaan itu.

Hanya diperlukan waktu semenit untuk menafsir seseorang, sejam untuk menyukai seseorang dan sehari untuk mencintai seseorang, tetapi diperlukan waktu seumur hidup untuk melupakan seseorang.

Hidup tanpa cinta sepeeti makanan tanpa garam. Oleh karena itu, kejarlah cinta seperti kau mengejar waktu dan apabila kau sudah mendapat cinta itu, jagalah ia seperti kau menjaga dirimu. Sesungguhnya cinta itu karunia Tuhan Yang Maha Esa.

Cintailah orang yang engkau kasihi itu sekedranya, mungkin saja dia akan menjadi orang yang kau benci pada suatu hari kelak. Juga bencilah terhadap orang yang kamu benci itu sekedarnya, barangkali dia akan menjadi orang yang engkau kasihi pada suatu hari nanti.

Janganlah kau tangisi perpisahan dan kegagalan bercinta, karena pada hakikatnya jodoh itu bukan ditangan manusia. Atas kasih sayang Tuhan kau dan dia bertemu, dan atas limpahan kasihNya jua kau dan dia dipisahkan bersama hikmah yang tersembunyi. Pernahkan kau berfikir kebesaranNya itu ?

Cinta itu tidak menjanjikan sebuah rumah tangga aman damai, tetapi penerimaan dan tanggung jawab adalah asas utama kebahagiaan rumah tangga. Cinta hanya sebuah keindahan perasaan, cinta akan bertukar menjadi tanggung jawab apabila terbinanya sebuah rumah tangga.

Memberikan seluruh cintamu kepada seseorang bukanlah jaminan dia akan membalas cintamu, jangan mengharapkan balasan cinta, tunggulah sampai cinta berkembang dihatinya, tetapi jika tidak, berbahagialah karena cinta tumbuh dihatimu.

Cinta bukanlah dari kata-kata, tetapi dari segumpal keinginan diberi pada hati yang memerlukan.

Cinta lebih mudah mekar dihati yang sedang dilanda kecewa, cinta seperti ini adalah cinta yang mengharapkan belas kasihan, oleh karena itu, bila sepi telah punah maka biasanya cinta juga akan turut terbang.

Cinta yang dikaitkan dengan kepentingan pribadi akan berubah menjadi putus asa.

Dalam sebuah percintaan, janganlah kamu sesali perpisahan tetapi sesalilah pertemuan. Karena tanpa pertemua tidak akan ada perpisahan.

Menikahlah dengan orang yang lebih mencintai diri kita daripada kita mencintai diri orang itu. Itu lebih baik daripada menikahi orang yang kita cintai tetapi tidak menyintai diri kita karena adalah lebih mudah mengubah pendirian diri sendiri daripada mengubah pendirian orang lain.

Cinta yang suci dapat dilihat dari pengorbanan seseorang, bukanlah dari pemberian semata.

Ibaratkalah kehilangan cinta itu seumpama hilangnya cincin permata di lautan luas yang tiada bertepi dan harus dilupakan.

Cinta tidak selalu bersama jodoh, tapi jodoh selalu bersama cinta.

Kata pujangga ; Cinta letaknya di hati, meskipun tersembunyi, namun getarannya jelas sekali. Ia mampu mempengaruhi fikiran sekaligus mengendalikan tindakan kita sehingga kadangkala kita melakukan hal terbodoh tanpa kita sadari.

Cinta dimulai dengan senyuman, tuumbuh dengan dekapan dan seringkali berakhir dengan air mata.

Mencintai adalah masalah yang penting bagi manusia, bila kita mampu mengurai cinta, maka hakekat cinta akan berubah menjadi sesuatu. Itulah kenyataan cinta ...

Memperlihatkan cinta adalah suatu kepicikan. Dibanding sesuatu yang agung, yang tersembunyi dibalik cinta. Cinta memang tidak mudah untuk dimengerti ...

Seseorang selalu membutuhkan orang lain. Untuk membantu memahami bagian dari diri kita. Untuk menyingkap bagian yang tersembunyi dari diri mereka. Dan untuk percaya dan memahami bagian yang terbaik dari mereka.

Ketika kita membantu orang lain.
Kita tidak boleh menyembunyikan apa yang kita ketahui tentangnya.
Kita tidak boleh hanya menjadi telinga bagi mereka.

Ketika tangan kehidupan terasa gelap dan malam tak bernyanyi.
Itu adalah waktu untuk cinta dan kepercayaan.
Dan tangan kehidupan akan bersinar dan bernyanyi.
Bila seseorang mencintai dan mempercayai seutuhnya.

Kasih ... kekuatan apakah yang menggerakkanku dalam badai
Mengapa aku menjadi lebih baik dan lebih kuat
Serta lebih yakin pada kehidupan saat badai menerjang
Aku tak mengerti dan sekarang aku menjadi lebih mencintai dirimu
Dari apapun yang ada di alam ini.

Sejak pertama kulihat engkau, Hal yang paling mendalam yang kurasakan adalah Kejujuran, kecerdasan dan kehangatan dirimu. Kini, pun sama hanya seribu kali lebih dalam dan lebih lembut.

Aku mencintaimu sebelum kita berdekatan, Sejak pertama kulihat engkau. Aku tahu ini adalah takdir. Kita akan selalu bersama ... Dan tidak ada yang akan memisahkan kita ...

PTM



Curahan Hatiku Lewat Puisi

UNGKAPAN HATIKU

pertama kali diriku mengenalmu
kau telah memberikan
harapan lebih padaku
pertama kali diriku mencintaimu
kaupun mampu memenuhi hasrat hatiku

rinduku padamu begitu menggebu
cintaku padamu tak mampu kusapu
sayangku padamu tak kan pernah layu
begitupun jiwa ragaku
akan aku serahkan hanya kepadamu

percayalah padaku
hanya kau yang mampu menenangkan hatiku
tetaplah bersamaku
karna aku akan slalu menjaga hatimu

"kalau baca puisi ini,aku jadi ingat saat pertama kali punya pacar... First love gitu"...


UNGKAPAN HATIKU 2

aku sadar bahwa diriku tak sempurna dimatanya
aku sadar bahwa diriku tak pantas untuknya
aku sadar bahwa dirimu tak seperti yang kukira
akupun sadar bahwa dirinya begitu mempesona

parasnya begitu indah dimata semua manusia
senyumnya begitu mempesona dimata semua wanita
dan kebaikannya begitu berharga dimata para pemujanya

meskipun diriku tak mampu menggapainya
dan tanganku tak mampu mencapainya
namun hatiku akan tetap slalu memilihnya
sebagai pemuda yang paling kucinta

"owalah... bisa romantis juga ya aku... (rokok makan dan tidur gratis)
ups... rokoknya ndak kalee..."


UNGKAPAN HATIKU 3

saat aku menangis
kaulah yang mengusap air mataku
saat aku bersedih
kaulah yang menghiburku
saat aku putus asa
kaulah yang memberi semangat hidup padaku
saat hatiku layu
kaulah yang mampu menyiramnya hingga berbunga

dirimu begitu sempurna dimataku
hatimu begitu berarti bagiku
kebaikanmu begitu menggetarkan jiwaku
kepribadianmu begitu menggugah hatiku

kaulah yang mengisi relung hatiku
kaulah yang menyelamatkan hidupku
kaulah yang menyinari jiwaku
kau juga yang mampu membahagiakanku

namun, kini semua tlah berlalu
kau akhiri kisah cintaku
kau buatku menangis setiap waktu
kau tak lagi memperhatikanku

aku benci padamu
karna semua yang kau berikan padaku itu palsu
aku benci padamu
melebihi kebencianku terhadap musuhku

jangan pernah datang dimasa depanku
karna sedikitpun aku tak pernah berharapkanmu
enyahlah dari kehidupanku
sebelum aku benar-benar membunuhmu

"puisi ini aku persembahkan untuk seseorang yang pernah menyakiti hatiku..."


UNGKAPAN HATIKU 4

dulu kau begitu mencintaiku
menyayangiku melebihi nyawamu
dulu kau reka berkorban untukku
menyerahkan seluruh jiwa dan ragamu

kemarin kau masih bersamaku
bersenda gurau sampai lupa waktu
kemarin kau masih mengisi hatiku
mengisi hari-hariku tanpa batas waktu

sekarang kau begitu mudah melupakan diriku
meninggalkanku, tanpa tahu betapa menderitanya batinku
sekarang kau pergi menjauhi diriku
menghianatiku, tanpa tahu betapa tersiksanya hatiku

kini semua t'lah berlalu
kulalui hari-hariku tanpa kasih sayangmu
kini diriku t'lah sendiri lagi
merenungi kesepian ini
tanpa tahu, siapa yang akan mengisi kekosongan hati ini

esok aku tak tahu
apa yang akan terjadi padaku
esok akupun tak tahu
siapa yang yang akan menjadi jodohku

akhirnya ungkapan hati
yang selama ini aku pendam
dan sangat menyiksa batin
mampu aku curahkan
dalam beberapa bait tulisan

berakhirlah sudah kisah cintaku
yang begitu menyakitkan nuraniku
usai sudah cerita hidupku
yang begitu berliku dan berpaku

"udah ach...susah bikin kelanjutannya..."


PUISI TANPA JUDUL

walaupun dirimu tak secantik bidadari
matamu tak seindah sandra dewi
senyummu tak semanis chelsea
suaramu tak semerdu maia estianti
rambutmu tak seindah gracia indri
namun aku tetap berteguh hati
mencintaimu sampai akhir nanti

jangankan memetik bunga mawar
bintang pun akan kupetik
dan hanya kuserahkan untukmu

meskipun diriku hanya berbekal cinta
bermodal kasih sayang
namun diriku akan tetap slalu setia

bukan harta sumber kebahagiaan kita
bukan emas sumber keharmonisan kita
tapi cinta dan kasih sayang yang membawa kita
dalam sebuah persahabatan dan kebersamaan
selamanya...


PUISIKU

secerah mentari dipagi hari
seindah bulan dimalam hari
sebening embun yang menyejukkan hati
seputih salju yang menyelimuti tubuh ini

berjuta bintang bersinar dilangit
beribu cinta mewarnai bumi
seharum mawar ditaman bunga
semerbak mewangi menghiasi jiwa

dunia fana bukanlah segalanya
kehidupan dunia bukanlah selamanya
semua hanya sebuah sandiwara
dan fatamorgana belaka

jangan pernah tertipu dengan keindahan dunia saja
jangan pernah terpana dengan keindahan semata
tapi ingatlah yang telah menciptakan kita
dimanapun kita berada selalu dilihat_Nya

"hmm... bisa mereligi juga ya aku... he he he..."

Minggu, 14 Februari 2010

Happy Birthday To Me "19"

* * *

Hari ini hari dimana nyawaku semakin berkurang, usiaku semakin bertambah dewasa, dan sebentar lagi aku akan menghadap sang Illahi, cepat atau lambat, waktu itu pasti akan datang padaku.

Tak ada yag istimewa di hari ini, meskipun tanggal ini kelahiranku, dan hari ini ulang tahunku, teman-temanku memberikan ucapan kepadaku, kuterima ucapan dan do'a mereka dengan senang hati. terutama ucapan dan do'a sahabatku, ia menyuruhku untuk berpuasa hari ini setelah semalam aku melakukan sholat hajat untuk meminta beberapa permintaan kepada Allah di hari ulang tahunku.

Tapi aku tetap bersyukur kepada Yang Maha Kuasa karena aku masih bisa menghirup udara segar hari ini, aku masih bisa merasakan apa yang ingin kurasakan, aku masih bisa menikmati pagi, malam, mimpi, melihat orang-orang kusayang, dan berada disini.

Ada 10 permintaan teratasku yang ingin kutunjukkan ke Allah :
1.) Aku ingin menjadi seorang mahasiswi, sejak dulu inilah keinginan terbesarku setelah aku lulus SMA, tapi Tuhan hanya memberikan kesempatan kepada untuk menjadi mahasiswi hanya 3 bulan, dan sekarang aku harus berusaha mengumpulkan recehan untuk biaya kuliahku suatu saat nanti. dan janjiku, aku akan menjadi mahasiswi dengan usahaku sendiri, dan tentunya dengan do'a dan ijin Tuhan.
2.) Aku ingin sekali menjadi Penulis, dengan menjadi seorang penulis, aku bisa mengumpulkan beberapa recehan untuk biaya kuliahku, jadi aku tak akan terbebani masalah biaya kuliah. aku juga ingin menguras tuntas bakatku, aku ingin menunjukkan pada dunia bahwa aku bisa menjadi apa yang kuingin, dan tentunya tetap dengan usaha dan do'a.
3.) Aku ingin menjadi sarjana, ya... seorang sarjana, yang bukan hanya S1, tapi juga S2 dan S3. aku ingin suatu saat nanti peranakanku tahu bahwa aku adalah orang yang berjuang keras untuk medapatkan apa yang aku ingin, sehingga semua peranakanku akan mengikuti jejakku, meskipun bukan menjadi penulis, tapi yang pasti menjadi orang yang hebat.
4.) Aku ingin menjadi orang yang berguna, bukan hanya berguna bagi diriku sendiri, tapi juga bagi keluargaku, teman-temanku, berguna bagi siapa saja. (Sukses, Berilmu, berbakti, dan tatat dengan agama).
5.) Aku ingin menjadi orang yang terkenal, menjadi panutan orang-orang di sekitarku karena sesuatu yang bernilai baik didalam diriku, sehingga orang lain bisa meniruku, meniru usahaku yang tak pernah putus asa dan tak pernah pantang menyerah, meniru pribadiku yang selalu berjuang, meniru sesuatu yang baik yang ada dalam diriku, hingga aku akan menjadi sejarah bagi orang lain, dan ketika jika Tuhan telah siap memanggilku, maka aku melegenda dan mereka ikhlas mendo'akanku setiap hari.
6.) Aku ingin dipersunting seorang pria yang beragama islam tulen, berilmu agama tinggi, berbakti kepada orang tuanya, mampu membimbingku, setia, jujur baik dan yang benar-benar Tuhan ciptakan untuk menjadi pasanganku. seandainya jika disuruh meminta yang lebih, aku ingin mempunyai suami seorang putra kyai, paling tidak seorang ustadz.
7.) Aku ingin Menjadi seorang ibu, seorang ibu yang berani melahirkan seorang putra dan putri yang tampan dan cantik, sholeh dan sholehah, berbakti kepadaku dan suamiku. cerdas dan tanpa punya satu kecacatan sedikit pun, sempurna dimataku. lalu, setelah dewasa, mereka menjadi orang yang berguna bagi siapa saja, pantang menyerah dan selalu berusaha mendapatkan sesuatu yang mereka inginkan tanpa menghalalkan berbagai cara.
8.) Aku ingin menjadi seorang nenek, menimang putra dan putri dari anak-anakku, memberikan kasih sayangku kepada mereka seperti aku memberikan kasih sayangku kepada putra dan putriku, lalu, cucu-cucuku pun menjadi apa yang mereka inginkan.
9.) Aku ingin menjadi buyut, merasakan kehangatan dalam sebuah kebersamaan di keluarga besarku. aku ingin menceritakan perjuanganku kepada mereka semasa hidupku, sehingga mereka tahu bahwa buyutnya ini adalah seseorang yang hebat yang tak kenal dengan kata menyerah. sehingga mereka bangga mempunyai buyut sepertiku.
10.) Setelah semua itu tercapai, aku siap, aku siap dan aku siap menghadap sang Illahi, aku siap melewati jalan sirothol mustaqim untuk menuju ke syurga-Nya, aku siap meneguk kesejukan air dan merasakan keindahan Syurga-Nya, aku siap menjadi Penghuni Syurga yang abadi dan kekal. bukan sendirian, tapi disusul oleh keluarga besarku, semua berkumpul menjadi satu, termasuk dengan ayah, ibu, kakak, dan adik-adikku.

Jika permintaan-permintaan ini masih begitu sedikit, maka aku akan memikirkan permintaan lainnya di ulang tahunku yang mendatang...

Dan teruntuk sahabatku yang selalu ada untukku, yaitu mbak Fikriyani Rodliyah, aku berharap hubungan persahabatan kami akan menjadi kekal dan abadi, sekali pun maut memisahkan, itu tak berarti jiwa kami terpisah.

Meskipun aku sedikit berharap bahwa seseorang yang ada dalam hatiku memberikan ucapan selamat ulang tahun padaku, tapi aku tak bisa memaksanya untuk memberikan ucapan kepadaku. karena aku ingin mendengarnya tulus tanpa kuminta, tapi... aku sadar sesadar-sadarnya bahwa kemungkinan besar harapanku ini sirna, karena seseorang itu tak pernah mempedulikanku.

Tapi, aku tak mau bersedih hanya karena itu, karena aku masih punya banyak teman yang ikhlas memberikan ucapan kepadaku, dan itu sangat berarti bagiku...!!!

So... thanks to all my friend, you are my best friend forever...!!!

Sabtu, 13 Februari 2010

Valentine Day...!!!

Tanggal 14 Februari adalah hari yang dinanti-nantikan oleh para kawula muda di seluruh dunia. Pada hari itu, para remaja biasanya merayakan Hari Valentine, suatu hari di mana digunakan sebagai momen penting untuk menumpahkah kasih sayangnya kepada orang yang dicintai. Ada bunga, kado, sampai pesta mewarnai perayaan hari itu. Tidak heran bila Hari Valentine ditunggu-tunggu orang, khususnya kaum muda, sepanjang tahun.

Perayaan Hari Valentine juga identik dengan kartu, gambar hati, warna merah muda dan Cupid (malaikat kecil bersayap yang selalu membawa panah asmaranya ke mana-mana). Dia sering dipakai untuk lambang cinta di hari kasih sayang. Hal itu karena menurut mitologi Romawi, Cupid adalah anak laki-laki Dewa Venus, dewa cinta dan kecantikan. Mungkin kita banyak yang tidak mengetahui asal-usul dan latar belakang perayaan Hari Valentine. Kapan sebenarnya perayaan ini dimulai? Asal-usulnya? Apa sesungguhnya yang dikabarkan Valentine buat kita? Kalaupun kita terlibat dalam perayaan setidaknya kita bukan hanya sebagai penggembira yang tidak memahami makna Valentine.

Selama ini, orang mengenal Valentine sebagai suatu budaya yang lahir dari Roma dan secara perlahan-lahan menjadi budaya milik dunia, tak terkecuali Indonesia. Awalnya pada 15 Februari sekitar abad ke-4 SM diadakan festival bangsa Roma yang disebut Lupercalis untuk memuja Dewa Lupercus, dewa pelindung tanaman obat dan hasil bumi. Pada malam sebelum festival, para pemuda Roma akan mencari pasangan mereka selama festival hingga pesta Lupercalia berikutnya. Mereka saling bertukar hadiah. Para wanita akan menerima sarung tangan harum atau perhiasan mahal. Tidak jarang mereka berhubungan asmara hingga satu tahun, jatuh cinta dan akhirnya menikah. Setelah berlangsung selama 800 tahun, gereja di Roma menentang perayaan tersebut, dan belakangan uskup dari Interamna yang bernama Valentine memulai kembali kebiasaan tersebut dengan cara yang berbeda.

Setelah Roma dikristenkan, para rohaniwan menggeser sehari ke belakang, dari yang sebelumnya 15 Februari menjadi 14 Februari sebagai hari kasih sayang, Hari Valentine. Hal ini dimaksudkan sebagai tanda untuk memperingati dua orang martir. Nama Valentino yang pertama dihukum mati oleh Kaisar Claudius II pada 14 Februari 270 M. Sang Kaisar menganggap bahwa bala tentaranya akan makin besar dan kuat jika mereka tidak menikah, sehingga melarang pria untuk menikah dan tinggal bersama keluarga. Seluruh pertunangan dan perkimpoian di seluruh Romawi dibatalkan demi memperkuat militernya.

Saat itu, Uskup Valentine (seorang pastor) bersama dengan Uskup Marius dan para martir Kristiani lainnya menikahkan pasangan Romawi secara sembunyi-sembunyi. Ketika ketahuan, Uskup Valentine ditangkap dan dipenjarakan (lihat boks). Akhirnya ia dihukum, dipukuli dengan tongkat, dilempari batu, dan dipenggal kepalanya hingga tewas.

Hukuman ini terjadi pada 14 Februari 270 M ketika orang-orang Romawi mempersiapkan festival Lupercalia, yang jatuh pada 15 Februari. Untuk mengenang jasa dan pengorbanan Uskup Valentine serta menghormati tradisi rakyat, maka para pastor Romawi menentukan tanggal 14 Februari sebagai Hari Valentine. Sedangkan Valentino yang kedua adalah seorang bishop dari Interamna (Terni modern). Dua martir ini lalu diberi gelar santo karena pengorbanannya –santo pelindung bagi pasangan yang sedang jatuh cinta. Hingga pada 469 M, Paus Gelasius mengumumkan setiap tahun pada 14 Februari sebagai Hari Valentine.

Kisah Asmara Valentine

Pada bulan musim semi, burung-burung mulai mencari pasangan dan Dewa Cupido, dewa berbentuk anak kecil bersayap, mulai mengarahkan anak panahnya pada hati muda-mudi.

Sebelum Valentine ditangkap, ia suka memberikan bunga di tamannya pada anak-anak. Saat ia berada di dalam penjara, berbondong-bondong anak-anak mengunjunginya, melempar sejumlah besar bunga segar ke ruang tahanannya. Selama dalam kurungan itu pula, ia berhasil menyembuhkan mata seorang gadis buta, anak penjaga menara, berkat imannya yang teguh dan kasihnya yang besar. Valentine jatuh cinta lalu secara kontinyu menulis surat cinta pada sang gadis. Sebelum ia menghadapi saat terakhirnya, sepucuk surat terakhir yang ditandatanganinya, ia tuliskan sebuah kalimat “From Your Valentine” kepada gadis itu. Sebuah ekspresi kasih sayang yang hingga sekarang digunakan banyak orang. Setelah Valentine meninggal, di atas makamnya, tumbuh sebatang pohon ginko warna pink yang berdaun lebat, melambangkan cinta yang abadi.

Kalimat inilah yang menjadi ungkapan yang sering dipakai untuk mengungkapkan kasih sayang atau cinta pada seseorang di Hari Valentine. Kebiasaan mengirimkan kartu Valentine sekarang ini sebenarnya tidak ada hubungannya dengan Uskup Valentine atau pesta Lupercalia. Konon kartu Valentine ini adalah kartu yang pertama keluar untuk jenis kartu ucapan. Pada saat itu orang belum mengenal jenis kartu ucapan yang lainnya. Saat pesta Lupercalia mulai ditinggalkan, para pemuda Romawi tetap menggunakan kebiasaan ini untuk mengajak kencan gadis idamannya dengan memberikan kartu tulisan tangan di tanggal 14 Februari. Tapi kartu Valentine yang sebenarnya pertama kali dikirim oleh Charles, seorang bangsawan dari Orleans, di tahun 1415 untuk istri tercintanya. Saat itu Charles sedang dipenjara di Tower of London yang sekarang sudah menjadi museum. Dari sanalah kemudian kebiasaan mengirim kartu itu terus berkembang sampai sekarang.

Kisah Valentine merupakan tragedi yang berhubungan antara hidup dan mati. Kisah kasih sejati yang bisa terekspresi oleh siapa pun. Setragis kisah Valentine, kisah tentang sebuah tindakan yang menggemparkan seluruh penjuru yang dilakukan oleh Zhen Xueli, seorang istri terpidana mati. Setelah divonis mati karena kesilapan membunuh orang, ia memohon pengadilan sipil tingkat dua setempat untuk memiliki anak dari sang suami dengan cara inseminasi buatan sebagai sebuah bukti cintanya, dan sekaligus agar dapat menghibur kepedihan sang mertua. Namun, harapannya akhirnya putus di tengah jalan. Tepat pada 18 Januari, untuk selama-lamanya Zheng Xueli kehilangan orang yang dicintainya. Orang yang dicintainya itu telah melakukan hal yang tidak seharusnya dilakukan, dan untuk selama-lamanya dengan terpaksa meninggalkan kekasih dan keluarganya.

Mungkin ketika para pasangan sekarang sibuk membeli bunga dan cokelat, tanpa mengetahui makna Hari Valentine dan nilai-nilai di balik sejarah Valentine. Tidak mengherankan, apabila di zaman yang dimabukkan oleh dekadensi moral yang mengkhawatirkan, sejarah telah dilupakan hingga pelita hancur seiring dengan renungan dan perasaan di dalam sanubarinya. Valentine membuat Hari Valentine, memberi tahu pada kita, bahwa cinta adalah suatu perasaan yang murni dan berharga. Sebuah hari besar dan makna cinta yang dikandungnya didapat dari seseorang yang mengorbankan jiwanya untuk kita.

Di zaman sekarang ketika Hari Valentine telah sepenuhnya menjadi perdagangan, hingga sejumlah besar orang Amerika tidak mengetahui di balik kepedihan Hari Valentine. Jadilah ‘From Your Valentine’ bisa sesukanya diucapkan, dan telah dianggap sebagai suatu mode. Seperti halnya di China sekarang, ada sejumlah besar orang, bagaimana secara kreatif memanfaatkan Hari Valentine, bermain dengan apa yang disebut permainan percintaan, memainkan acara sebagai orang ketiga dengan riang gembira, Hari Valentine berubah menjadi hari besar kekasih di luar istri. Ada berita mengatakan, bahwa sekitar 30% orang yang berkunjung ke Hongkong, pada saat Hari Valentine merasa menyesal karena tidak dapat mendampingi beberapa kekasih secara bersamaan. Di RRC, mungkin juga mempunyai jumlah yang sama atau mungkin lebih banyak lagi orang merasakan kerisauan yang sama, tanpa mengetahui bagaimana perasaan Valentine di atas sana jika mengetahuinya.

Tanpa mempermasalahkan asal-usul Hari Valentine, terkandung makna yang diakui banyak orang, baik yang merayakan atau tidak, bahwa cinta dan kasih sayang patut kita pupuk sepanjang masa. Cinta adalah perasaan jiwa dan gejolak hati yang mendorong kehidupan lebih bergairah dan harmonis. Ada yang sedang romantis mempersembahkan bunga, ada yang saling mempercayakan seumur hidupnya, ada yang berjanji dengan setulusnya, dan ada juga yang diam-diam sendirian meneteskan air mata. Ada yang berkorban demi cinta sejati, ada juga yang mempermainkan cinta. Sementara ginko pink di atas makam Valentine mekar sendiri, demi perasaan cinta yang sejati dan murni manusia sebagai dasar persembahan cinta.

Meskipun banyak yang menanti hari tersebut... tapi aku tetap tak menemukan sesuatu yang istimewa di hari tersebut... karena bagiku, semua hari itu sama, yang membedakan adalah, sudahkah kita menjadi orang yang lebih baik di setiap hari yang terlewati....????