Rabu, 17 Februari 2010

PTM



Curahan Hatiku Lewat Puisi

UNGKAPAN HATIKU

pertama kali diriku mengenalmu
kau telah memberikan
harapan lebih padaku
pertama kali diriku mencintaimu
kaupun mampu memenuhi hasrat hatiku

rinduku padamu begitu menggebu
cintaku padamu tak mampu kusapu
sayangku padamu tak kan pernah layu
begitupun jiwa ragaku
akan aku serahkan hanya kepadamu

percayalah padaku
hanya kau yang mampu menenangkan hatiku
tetaplah bersamaku
karna aku akan slalu menjaga hatimu

"kalau baca puisi ini,aku jadi ingat saat pertama kali punya pacar... First love gitu"...


UNGKAPAN HATIKU 2

aku sadar bahwa diriku tak sempurna dimatanya
aku sadar bahwa diriku tak pantas untuknya
aku sadar bahwa dirimu tak seperti yang kukira
akupun sadar bahwa dirinya begitu mempesona

parasnya begitu indah dimata semua manusia
senyumnya begitu mempesona dimata semua wanita
dan kebaikannya begitu berharga dimata para pemujanya

meskipun diriku tak mampu menggapainya
dan tanganku tak mampu mencapainya
namun hatiku akan tetap slalu memilihnya
sebagai pemuda yang paling kucinta

"owalah... bisa romantis juga ya aku... (rokok makan dan tidur gratis)
ups... rokoknya ndak kalee..."


UNGKAPAN HATIKU 3

saat aku menangis
kaulah yang mengusap air mataku
saat aku bersedih
kaulah yang menghiburku
saat aku putus asa
kaulah yang memberi semangat hidup padaku
saat hatiku layu
kaulah yang mampu menyiramnya hingga berbunga

dirimu begitu sempurna dimataku
hatimu begitu berarti bagiku
kebaikanmu begitu menggetarkan jiwaku
kepribadianmu begitu menggugah hatiku

kaulah yang mengisi relung hatiku
kaulah yang menyelamatkan hidupku
kaulah yang menyinari jiwaku
kau juga yang mampu membahagiakanku

namun, kini semua tlah berlalu
kau akhiri kisah cintaku
kau buatku menangis setiap waktu
kau tak lagi memperhatikanku

aku benci padamu
karna semua yang kau berikan padaku itu palsu
aku benci padamu
melebihi kebencianku terhadap musuhku

jangan pernah datang dimasa depanku
karna sedikitpun aku tak pernah berharapkanmu
enyahlah dari kehidupanku
sebelum aku benar-benar membunuhmu

"puisi ini aku persembahkan untuk seseorang yang pernah menyakiti hatiku..."


UNGKAPAN HATIKU 4

dulu kau begitu mencintaiku
menyayangiku melebihi nyawamu
dulu kau reka berkorban untukku
menyerahkan seluruh jiwa dan ragamu

kemarin kau masih bersamaku
bersenda gurau sampai lupa waktu
kemarin kau masih mengisi hatiku
mengisi hari-hariku tanpa batas waktu

sekarang kau begitu mudah melupakan diriku
meninggalkanku, tanpa tahu betapa menderitanya batinku
sekarang kau pergi menjauhi diriku
menghianatiku, tanpa tahu betapa tersiksanya hatiku

kini semua t'lah berlalu
kulalui hari-hariku tanpa kasih sayangmu
kini diriku t'lah sendiri lagi
merenungi kesepian ini
tanpa tahu, siapa yang akan mengisi kekosongan hati ini

esok aku tak tahu
apa yang akan terjadi padaku
esok akupun tak tahu
siapa yang yang akan menjadi jodohku

akhirnya ungkapan hati
yang selama ini aku pendam
dan sangat menyiksa batin
mampu aku curahkan
dalam beberapa bait tulisan

berakhirlah sudah kisah cintaku
yang begitu menyakitkan nuraniku
usai sudah cerita hidupku
yang begitu berliku dan berpaku

"udah ach...susah bikin kelanjutannya..."


PUISI TANPA JUDUL

walaupun dirimu tak secantik bidadari
matamu tak seindah sandra dewi
senyummu tak semanis chelsea
suaramu tak semerdu maia estianti
rambutmu tak seindah gracia indri
namun aku tetap berteguh hati
mencintaimu sampai akhir nanti

jangankan memetik bunga mawar
bintang pun akan kupetik
dan hanya kuserahkan untukmu

meskipun diriku hanya berbekal cinta
bermodal kasih sayang
namun diriku akan tetap slalu setia

bukan harta sumber kebahagiaan kita
bukan emas sumber keharmonisan kita
tapi cinta dan kasih sayang yang membawa kita
dalam sebuah persahabatan dan kebersamaan
selamanya...


PUISIKU

secerah mentari dipagi hari
seindah bulan dimalam hari
sebening embun yang menyejukkan hati
seputih salju yang menyelimuti tubuh ini

berjuta bintang bersinar dilangit
beribu cinta mewarnai bumi
seharum mawar ditaman bunga
semerbak mewangi menghiasi jiwa

dunia fana bukanlah segalanya
kehidupan dunia bukanlah selamanya
semua hanya sebuah sandiwara
dan fatamorgana belaka

jangan pernah tertipu dengan keindahan dunia saja
jangan pernah terpana dengan keindahan semata
tapi ingatlah yang telah menciptakan kita
dimanapun kita berada selalu dilihat_Nya

"hmm... bisa mereligi juga ya aku... he he he..."

Minggu, 14 Februari 2010

Happy Birthday To Me "19"

* * *

Hari ini hari dimana nyawaku semakin berkurang, usiaku semakin bertambah dewasa, dan sebentar lagi aku akan menghadap sang Illahi, cepat atau lambat, waktu itu pasti akan datang padaku.

Tak ada yag istimewa di hari ini, meskipun tanggal ini kelahiranku, dan hari ini ulang tahunku, teman-temanku memberikan ucapan kepadaku, kuterima ucapan dan do'a mereka dengan senang hati. terutama ucapan dan do'a sahabatku, ia menyuruhku untuk berpuasa hari ini setelah semalam aku melakukan sholat hajat untuk meminta beberapa permintaan kepada Allah di hari ulang tahunku.

Tapi aku tetap bersyukur kepada Yang Maha Kuasa karena aku masih bisa menghirup udara segar hari ini, aku masih bisa merasakan apa yang ingin kurasakan, aku masih bisa menikmati pagi, malam, mimpi, melihat orang-orang kusayang, dan berada disini.

Ada 10 permintaan teratasku yang ingin kutunjukkan ke Allah :
1.) Aku ingin menjadi seorang mahasiswi, sejak dulu inilah keinginan terbesarku setelah aku lulus SMA, tapi Tuhan hanya memberikan kesempatan kepada untuk menjadi mahasiswi hanya 3 bulan, dan sekarang aku harus berusaha mengumpulkan recehan untuk biaya kuliahku suatu saat nanti. dan janjiku, aku akan menjadi mahasiswi dengan usahaku sendiri, dan tentunya dengan do'a dan ijin Tuhan.
2.) Aku ingin sekali menjadi Penulis, dengan menjadi seorang penulis, aku bisa mengumpulkan beberapa recehan untuk biaya kuliahku, jadi aku tak akan terbebani masalah biaya kuliah. aku juga ingin menguras tuntas bakatku, aku ingin menunjukkan pada dunia bahwa aku bisa menjadi apa yang kuingin, dan tentunya tetap dengan usaha dan do'a.
3.) Aku ingin menjadi sarjana, ya... seorang sarjana, yang bukan hanya S1, tapi juga S2 dan S3. aku ingin suatu saat nanti peranakanku tahu bahwa aku adalah orang yang berjuang keras untuk medapatkan apa yang aku ingin, sehingga semua peranakanku akan mengikuti jejakku, meskipun bukan menjadi penulis, tapi yang pasti menjadi orang yang hebat.
4.) Aku ingin menjadi orang yang berguna, bukan hanya berguna bagi diriku sendiri, tapi juga bagi keluargaku, teman-temanku, berguna bagi siapa saja. (Sukses, Berilmu, berbakti, dan tatat dengan agama).
5.) Aku ingin menjadi orang yang terkenal, menjadi panutan orang-orang di sekitarku karena sesuatu yang bernilai baik didalam diriku, sehingga orang lain bisa meniruku, meniru usahaku yang tak pernah putus asa dan tak pernah pantang menyerah, meniru pribadiku yang selalu berjuang, meniru sesuatu yang baik yang ada dalam diriku, hingga aku akan menjadi sejarah bagi orang lain, dan ketika jika Tuhan telah siap memanggilku, maka aku melegenda dan mereka ikhlas mendo'akanku setiap hari.
6.) Aku ingin dipersunting seorang pria yang beragama islam tulen, berilmu agama tinggi, berbakti kepada orang tuanya, mampu membimbingku, setia, jujur baik dan yang benar-benar Tuhan ciptakan untuk menjadi pasanganku. seandainya jika disuruh meminta yang lebih, aku ingin mempunyai suami seorang putra kyai, paling tidak seorang ustadz.
7.) Aku ingin Menjadi seorang ibu, seorang ibu yang berani melahirkan seorang putra dan putri yang tampan dan cantik, sholeh dan sholehah, berbakti kepadaku dan suamiku. cerdas dan tanpa punya satu kecacatan sedikit pun, sempurna dimataku. lalu, setelah dewasa, mereka menjadi orang yang berguna bagi siapa saja, pantang menyerah dan selalu berusaha mendapatkan sesuatu yang mereka inginkan tanpa menghalalkan berbagai cara.
8.) Aku ingin menjadi seorang nenek, menimang putra dan putri dari anak-anakku, memberikan kasih sayangku kepada mereka seperti aku memberikan kasih sayangku kepada putra dan putriku, lalu, cucu-cucuku pun menjadi apa yang mereka inginkan.
9.) Aku ingin menjadi buyut, merasakan kehangatan dalam sebuah kebersamaan di keluarga besarku. aku ingin menceritakan perjuanganku kepada mereka semasa hidupku, sehingga mereka tahu bahwa buyutnya ini adalah seseorang yang hebat yang tak kenal dengan kata menyerah. sehingga mereka bangga mempunyai buyut sepertiku.
10.) Setelah semua itu tercapai, aku siap, aku siap dan aku siap menghadap sang Illahi, aku siap melewati jalan sirothol mustaqim untuk menuju ke syurga-Nya, aku siap meneguk kesejukan air dan merasakan keindahan Syurga-Nya, aku siap menjadi Penghuni Syurga yang abadi dan kekal. bukan sendirian, tapi disusul oleh keluarga besarku, semua berkumpul menjadi satu, termasuk dengan ayah, ibu, kakak, dan adik-adikku.

Jika permintaan-permintaan ini masih begitu sedikit, maka aku akan memikirkan permintaan lainnya di ulang tahunku yang mendatang...

Dan teruntuk sahabatku yang selalu ada untukku, yaitu mbak Fikriyani Rodliyah, aku berharap hubungan persahabatan kami akan menjadi kekal dan abadi, sekali pun maut memisahkan, itu tak berarti jiwa kami terpisah.

Meskipun aku sedikit berharap bahwa seseorang yang ada dalam hatiku memberikan ucapan selamat ulang tahun padaku, tapi aku tak bisa memaksanya untuk memberikan ucapan kepadaku. karena aku ingin mendengarnya tulus tanpa kuminta, tapi... aku sadar sesadar-sadarnya bahwa kemungkinan besar harapanku ini sirna, karena seseorang itu tak pernah mempedulikanku.

Tapi, aku tak mau bersedih hanya karena itu, karena aku masih punya banyak teman yang ikhlas memberikan ucapan kepadaku, dan itu sangat berarti bagiku...!!!

So... thanks to all my friend, you are my best friend forever...!!!

Sabtu, 13 Februari 2010

Valentine Day...!!!

Tanggal 14 Februari adalah hari yang dinanti-nantikan oleh para kawula muda di seluruh dunia. Pada hari itu, para remaja biasanya merayakan Hari Valentine, suatu hari di mana digunakan sebagai momen penting untuk menumpahkah kasih sayangnya kepada orang yang dicintai. Ada bunga, kado, sampai pesta mewarnai perayaan hari itu. Tidak heran bila Hari Valentine ditunggu-tunggu orang, khususnya kaum muda, sepanjang tahun.

Perayaan Hari Valentine juga identik dengan kartu, gambar hati, warna merah muda dan Cupid (malaikat kecil bersayap yang selalu membawa panah asmaranya ke mana-mana). Dia sering dipakai untuk lambang cinta di hari kasih sayang. Hal itu karena menurut mitologi Romawi, Cupid adalah anak laki-laki Dewa Venus, dewa cinta dan kecantikan. Mungkin kita banyak yang tidak mengetahui asal-usul dan latar belakang perayaan Hari Valentine. Kapan sebenarnya perayaan ini dimulai? Asal-usulnya? Apa sesungguhnya yang dikabarkan Valentine buat kita? Kalaupun kita terlibat dalam perayaan setidaknya kita bukan hanya sebagai penggembira yang tidak memahami makna Valentine.

Selama ini, orang mengenal Valentine sebagai suatu budaya yang lahir dari Roma dan secara perlahan-lahan menjadi budaya milik dunia, tak terkecuali Indonesia. Awalnya pada 15 Februari sekitar abad ke-4 SM diadakan festival bangsa Roma yang disebut Lupercalis untuk memuja Dewa Lupercus, dewa pelindung tanaman obat dan hasil bumi. Pada malam sebelum festival, para pemuda Roma akan mencari pasangan mereka selama festival hingga pesta Lupercalia berikutnya. Mereka saling bertukar hadiah. Para wanita akan menerima sarung tangan harum atau perhiasan mahal. Tidak jarang mereka berhubungan asmara hingga satu tahun, jatuh cinta dan akhirnya menikah. Setelah berlangsung selama 800 tahun, gereja di Roma menentang perayaan tersebut, dan belakangan uskup dari Interamna yang bernama Valentine memulai kembali kebiasaan tersebut dengan cara yang berbeda.

Setelah Roma dikristenkan, para rohaniwan menggeser sehari ke belakang, dari yang sebelumnya 15 Februari menjadi 14 Februari sebagai hari kasih sayang, Hari Valentine. Hal ini dimaksudkan sebagai tanda untuk memperingati dua orang martir. Nama Valentino yang pertama dihukum mati oleh Kaisar Claudius II pada 14 Februari 270 M. Sang Kaisar menganggap bahwa bala tentaranya akan makin besar dan kuat jika mereka tidak menikah, sehingga melarang pria untuk menikah dan tinggal bersama keluarga. Seluruh pertunangan dan perkimpoian di seluruh Romawi dibatalkan demi memperkuat militernya.

Saat itu, Uskup Valentine (seorang pastor) bersama dengan Uskup Marius dan para martir Kristiani lainnya menikahkan pasangan Romawi secara sembunyi-sembunyi. Ketika ketahuan, Uskup Valentine ditangkap dan dipenjarakan (lihat boks). Akhirnya ia dihukum, dipukuli dengan tongkat, dilempari batu, dan dipenggal kepalanya hingga tewas.

Hukuman ini terjadi pada 14 Februari 270 M ketika orang-orang Romawi mempersiapkan festival Lupercalia, yang jatuh pada 15 Februari. Untuk mengenang jasa dan pengorbanan Uskup Valentine serta menghormati tradisi rakyat, maka para pastor Romawi menentukan tanggal 14 Februari sebagai Hari Valentine. Sedangkan Valentino yang kedua adalah seorang bishop dari Interamna (Terni modern). Dua martir ini lalu diberi gelar santo karena pengorbanannya –santo pelindung bagi pasangan yang sedang jatuh cinta. Hingga pada 469 M, Paus Gelasius mengumumkan setiap tahun pada 14 Februari sebagai Hari Valentine.

Kisah Asmara Valentine

Pada bulan musim semi, burung-burung mulai mencari pasangan dan Dewa Cupido, dewa berbentuk anak kecil bersayap, mulai mengarahkan anak panahnya pada hati muda-mudi.

Sebelum Valentine ditangkap, ia suka memberikan bunga di tamannya pada anak-anak. Saat ia berada di dalam penjara, berbondong-bondong anak-anak mengunjunginya, melempar sejumlah besar bunga segar ke ruang tahanannya. Selama dalam kurungan itu pula, ia berhasil menyembuhkan mata seorang gadis buta, anak penjaga menara, berkat imannya yang teguh dan kasihnya yang besar. Valentine jatuh cinta lalu secara kontinyu menulis surat cinta pada sang gadis. Sebelum ia menghadapi saat terakhirnya, sepucuk surat terakhir yang ditandatanganinya, ia tuliskan sebuah kalimat “From Your Valentine” kepada gadis itu. Sebuah ekspresi kasih sayang yang hingga sekarang digunakan banyak orang. Setelah Valentine meninggal, di atas makamnya, tumbuh sebatang pohon ginko warna pink yang berdaun lebat, melambangkan cinta yang abadi.

Kalimat inilah yang menjadi ungkapan yang sering dipakai untuk mengungkapkan kasih sayang atau cinta pada seseorang di Hari Valentine. Kebiasaan mengirimkan kartu Valentine sekarang ini sebenarnya tidak ada hubungannya dengan Uskup Valentine atau pesta Lupercalia. Konon kartu Valentine ini adalah kartu yang pertama keluar untuk jenis kartu ucapan. Pada saat itu orang belum mengenal jenis kartu ucapan yang lainnya. Saat pesta Lupercalia mulai ditinggalkan, para pemuda Romawi tetap menggunakan kebiasaan ini untuk mengajak kencan gadis idamannya dengan memberikan kartu tulisan tangan di tanggal 14 Februari. Tapi kartu Valentine yang sebenarnya pertama kali dikirim oleh Charles, seorang bangsawan dari Orleans, di tahun 1415 untuk istri tercintanya. Saat itu Charles sedang dipenjara di Tower of London yang sekarang sudah menjadi museum. Dari sanalah kemudian kebiasaan mengirim kartu itu terus berkembang sampai sekarang.

Kisah Valentine merupakan tragedi yang berhubungan antara hidup dan mati. Kisah kasih sejati yang bisa terekspresi oleh siapa pun. Setragis kisah Valentine, kisah tentang sebuah tindakan yang menggemparkan seluruh penjuru yang dilakukan oleh Zhen Xueli, seorang istri terpidana mati. Setelah divonis mati karena kesilapan membunuh orang, ia memohon pengadilan sipil tingkat dua setempat untuk memiliki anak dari sang suami dengan cara inseminasi buatan sebagai sebuah bukti cintanya, dan sekaligus agar dapat menghibur kepedihan sang mertua. Namun, harapannya akhirnya putus di tengah jalan. Tepat pada 18 Januari, untuk selama-lamanya Zheng Xueli kehilangan orang yang dicintainya. Orang yang dicintainya itu telah melakukan hal yang tidak seharusnya dilakukan, dan untuk selama-lamanya dengan terpaksa meninggalkan kekasih dan keluarganya.

Mungkin ketika para pasangan sekarang sibuk membeli bunga dan cokelat, tanpa mengetahui makna Hari Valentine dan nilai-nilai di balik sejarah Valentine. Tidak mengherankan, apabila di zaman yang dimabukkan oleh dekadensi moral yang mengkhawatirkan, sejarah telah dilupakan hingga pelita hancur seiring dengan renungan dan perasaan di dalam sanubarinya. Valentine membuat Hari Valentine, memberi tahu pada kita, bahwa cinta adalah suatu perasaan yang murni dan berharga. Sebuah hari besar dan makna cinta yang dikandungnya didapat dari seseorang yang mengorbankan jiwanya untuk kita.

Di zaman sekarang ketika Hari Valentine telah sepenuhnya menjadi perdagangan, hingga sejumlah besar orang Amerika tidak mengetahui di balik kepedihan Hari Valentine. Jadilah ‘From Your Valentine’ bisa sesukanya diucapkan, dan telah dianggap sebagai suatu mode. Seperti halnya di China sekarang, ada sejumlah besar orang, bagaimana secara kreatif memanfaatkan Hari Valentine, bermain dengan apa yang disebut permainan percintaan, memainkan acara sebagai orang ketiga dengan riang gembira, Hari Valentine berubah menjadi hari besar kekasih di luar istri. Ada berita mengatakan, bahwa sekitar 30% orang yang berkunjung ke Hongkong, pada saat Hari Valentine merasa menyesal karena tidak dapat mendampingi beberapa kekasih secara bersamaan. Di RRC, mungkin juga mempunyai jumlah yang sama atau mungkin lebih banyak lagi orang merasakan kerisauan yang sama, tanpa mengetahui bagaimana perasaan Valentine di atas sana jika mengetahuinya.

Tanpa mempermasalahkan asal-usul Hari Valentine, terkandung makna yang diakui banyak orang, baik yang merayakan atau tidak, bahwa cinta dan kasih sayang patut kita pupuk sepanjang masa. Cinta adalah perasaan jiwa dan gejolak hati yang mendorong kehidupan lebih bergairah dan harmonis. Ada yang sedang romantis mempersembahkan bunga, ada yang saling mempercayakan seumur hidupnya, ada yang berjanji dengan setulusnya, dan ada juga yang diam-diam sendirian meneteskan air mata. Ada yang berkorban demi cinta sejati, ada juga yang mempermainkan cinta. Sementara ginko pink di atas makam Valentine mekar sendiri, demi perasaan cinta yang sejati dan murni manusia sebagai dasar persembahan cinta.

Meskipun banyak yang menanti hari tersebut... tapi aku tetap tak menemukan sesuatu yang istimewa di hari tersebut... karena bagiku, semua hari itu sama, yang membedakan adalah, sudahkah kita menjadi orang yang lebih baik di setiap hari yang terlewati....????

Jumat, 22 Januari 2010

Pesan Panjangku Untuk Mas "Y" ... !

hanya sekedar memberitahu uneg" yg selalu mengganjal dihatiku...
up to you, want you to read or no...
karena aku belum benar2 lega sebelum menunjukknnya padamu...
"boleh kamu langsung hapus jika tak suka dg pesanku ini..."

tapi aku masih bingung mau memulainya darimana,
aku ingin kau tahu aku rindu padamu "Ho ho ho, jo diguyu nak terlalu lebay"...

aku baru tahu kalau ternyta aku sangat membutuhkan perhatianmu setelah kau jauh dariku.. aneh loh, koq ini bisa terjadi padaku,,, padahal mungkin kau hanya mengaggapku sebagai teman, paling tidak adiklah... "Asbak ae".

aku tak akan memintamu menjadi seperti apa yg aku inginkan, jika sudah terlanjur cinta, akupun akn merasakan sakit jika org yg kucinta seprti menjauh dariku, sama sekali tak pernah mencoba tuk menghubungi/menemuiku... "tapi mbuh ya awakmu piye, seng tak rasak'e hanya long distance owq..."

semuanya itu terserah kamu si, entah mau menghindar, cuek, ataupun sengaja menjauhiku karena tak mau berhubugan dgku lagi... "Aku rak pengen ndadek'e awakmu loro ati owq..."

tak pernah ada rasa penyesalan karena aku punya perasaan yg dalam terhadapmu, meskipun entah kau peduli/tidak... "Seng penting aku tresno"

entah kau merasa atau tidak kalau aku tak pernah tenang setiap kali memikirkanmu.. "Nangis terus goro2 g'iso ngurangi perasaanku neng awakmu mergo terlanjur tresno"

tp kayk'e g' sopan juga kalau aku duluan yg nulis kyak gini sama kamu... "Coz, q wes rak kuat mendem perasaan koyo' ngene".

aku gak tahu perasaanmu ke aku itu seperti apa, coz setelah aku tahu perasaanmu sebulan kemarin, kau jadi meghilang tanpa jejak, paling lihat kamu pas di counter aja... "tak rasak'e mergo iki aku dadi rak iso nahan kangen".

mungkin bisa dibilang juga kalau aku ini gadis cengeng, hanya gara2 masalah sepele seperti ini aku tak kuasa melakukan apapun dengan ikhlas. "Kabeh serba kepontang-panting, kurang sabare awakku nrimo kenyataan iki".

terus,,, kau juga tahu kan beberapa status fbku yg serig tertuju padamu, "Tp mbuh yow kau pernah buka'i fbku opo ora".

aku memang gadis lemah yg sangat sulit memendam perasaanku terhadap dirimu... "mgkn mergo ncen cewek ki luweh akeh rapuhe, ndadi'ke pikirane sering rak tenang".

so... kaya'e perasaanku emang dah terlalu dalam sehingga aku tak mampu melupakan seorang pemuda yg namanya tercantum dalam dirimu... "mesti kau jek ilenglah karo jengenmu dewe".

aku gak tahu apakah seorang pemuda juga akan merasakan hal yg sama sepertiku atau tidak jika berada dalam posisiku. "Soale aku rak pernah ngrasak'e dadi cah lanang".

aku juga gak pernah tahu isi hatimu seperti apa sehingga membuatku benar2 penasaran ingin sekali menyelaminya hingga aku benar-benar bisa mengerti perasaanmu.. "Susah loh tuk cari tahu, coz aku rak mungkin takon2 karo kanca2mu"

bukan karena aku malu ingin bertanya ttg dirimu ke teman2mu, tapi karena aku takut kau tak suka dg sikapku yg sok ngebet banget pengen tahu seperti apa mas "Y" ini. "bakalan ndadek'e awakku kisinen dewe nak ncen awakmu rak mengharap koyo ngono".

aku tak pernah tahu kau menganggapku sebagai apa dalam hidupmu, karena pemuda sepertimu memang susah sekali ditebak.. "mungkin mergo saking penasarane aku neng awakmu".

apa mgkn aku yg emang gak pantas mencintai pemuda seperti dirimu. "mgkn mergo saking buru'e sifatku".

yah gitu lah, tapi jangan gara2 masalah ini menjadikanmu selalu kepikiran terus... anggep ae semua baik2 saja... "ora mergo aku ngroso kePDnen pas awakmu bar moco iki langsung mikirke aku terus".

eh, tapi jo sampek kok guyu loh tulisanku iki, aku ngrangkainya sampe mumet2an, mbolak-mbalik kata2 seng pas, ngature iku loh seng dadekke aku sampek gerogi meh nulis ngene iki...

ho ho ho... tapi aku dah agak lega sih dah kirim ini ke mas...!

satu lagi... jangan kira setelah ini aku akan dg mudah melepaskanmu loh mas...!! sampai ke ujung dunia pun kau akan tetap ku raih... ho ho ho "Lebay men yow"...
tapi ncen ngono owq...

yo wes, love you ae and see you mas "Y"...

Selasa, 19 Januari 2010

Kesedihan Yang Mendalam Tanpa Ada Yang Mampu Mengobati

* * *

Cintaku bertepuk sebelah hati, sayangku bertepuk sebelah jiwa, rinduku bertepuk sebelah nyawa...!!!

Tuhan... Mungkin memang hanya aku yang tahu seperti apa perasaanku saat ini, sedih, merana, tersiksa, serasa hidup tiada artinya...

Aku tak pernah berharap apa-apa darinya kecuali hanya sebuah perhatian. Entah ia juga memikirkan diriku atau tidak, namun... setiap detik, setiap menit, setiap hari, bahkan setiap waktu, nama dan wajahnya selalu menganggu pikiranku. Bahkan ketika aku ingin tidur pun selalu terpikirkan olehnya.

Setiap kali aku melihat seorang pemuda, hatiku selalu berkata mungkin itu dirinya, meskipun aku tahu dan aku benar-benar sadar bahwa ia tak mungkin tiba-tiba muncul ketika aku mengharapkannya...

Ingatanku selalu tertuju padanya, awalnya aku tak merasa gerogi ataupun gugup setiap kali tak sengaja bertemu dengannya, tapi... aku mulai berubah 180 derajat. Setiap kali tak sengaja bertemu dengannya, perasaan gugup, salting dan gerogi selalu menyelimuti hati dan tubuhku ini. Padahal aku sudah mencoba menyeimbangkan keadaanku dengan merefresh pikiranku agar tak selalu tertuju padanya, tapi tetap saja aku gagal. Aku benar-benar belum sanggup untuk menempuh jalan sejauh ini, kehidupanku belum seimbang dengan dunia yang kusandang saat ini.

Setiap kali aku membuat tulisan, entah itu novel, cerpen maupun mengerjakan tugas-tugas temanku, khayalan saat mencari ide pun selalu dihantui perasaan yang tak menentu dalam hatiku, dirinya selalu menjadi inspirasi bagiku hingga aku mampu mengkaryakan sebuah tulisan, bahkan dalam waktu yang sangat singkat aku mampu menyelesaikan sebuah novel karena semangat yang tinggi.

Memang dirinya tak pernah memberiku semangat apalagi support, terlebih-lebih dukungan, sama sekali tak pernah. Tapi setiap kali ingat dirinya aku selalu merasakan semangat yang tinggi, selalu merasakan kehadirannya meskipun hatiku selalu sepi tanpa dirinya.

Tapi itu kemarin... Untuk saat ini, pikiranku down karena merasakan kerinduan yang mendalam tanpa bisa terobati... Bahkan untuk mencari ide buat tulisan baruku aku tak mendapatkannya, sudah lebih dari 3 hari ini aku tak mendapatkan ide apa pun, padahal biasanya dalam waktu kurang dari sehari aku sudah mendapatkan beberapa ide untuk tulisanku hingga akhirnya aku memilih satu ide yang benar-benar mantap dan cocok dengan pemikiranku.

Sepertinya aku benar-benar sudah gila dibuatnya, aku tersiksa oleh ketidak pastian perasaan yang ada dalam hatiku terhadapnya. Aku tak pernah tahu seperti apa perasaanya terhadapku, bahkan ia tak pernah sekalipun menghubungiku. Aku tak percaya kalau ia lupa padaku, tapi aku percaya kalau ia mungkin tak ingin menghubungiku, bahkan mungkin malas untuk bertemu denganku.

Aku tak percaya ini bisa terjadi pada diriku, bahkan untuk melupakan dirinya hanya untuk sekejab pun aku benar-benar tak sanggup. Dia benar-benar telah membunuh ketenanganku, ia merubahnya menjadi sebuah kesunyian, kegelisahan, kesedihan, keresahan, kesepian dan kerinduan yang mendalam... Tapi kenapa ia tak mau bertanggup jawab...???

Ia tak pernah memberitahu kepadaku bagaimana kabar maupun keadaannya, ia tak pernah sekalipun menanyakan kabar dan keadaanku. Tapi bodohnya kenapa aku masih menaruh perasaan lebih terhadapnya...? meskipun aku telah terluka, tapi sulit bagiku untuk melepaskannya, sulit bagiku untuk membiarkannya pergi meninggalkanku, sulit bagiku untuk melupakannya walau hanya sekejab.

Cinta... sejak dulu aku tak pernah percaya dengan yang namanya cinta sejati. Itu hanya ada pada diriku terhadap Tuhanku... Tapi, aku mempunyai perasaan sayang yang berlebih terhadapnya, aku juga mempunyai perasaan rindu yang berlebih terhadapnya.

Seringkali aku berusaha untuk mengobati rasa rinduku dengan memandangi beberapa fotonya, tapi semakin aku larut dalam suasana itu, semakin aku merasakan sakit yang tiada tara hingga tak mampu disembuhkan oleh siapapun, bahkan aku yakin sekalipun ia datang untuk menemuiku, sengaja untuk melampiaskan kerinduannya padaku, aku tetap akan merasakan sakit, bahkan lebih sakit lagi jika memang aku bertemu dengannya...

Sekalipun aku terlihat mampu bertahan, namun dalam hatiku aku merasakan kerapuhan, sangat rapuh, bahkan hatiku seakan mudah robet layaknya selembar kertas yang mampu dirobek oleh siapapun. Hatiku juga seperti sayap kupu-kupu yang mudah sekali robek, bahkan hanya sekedar untuk terbang dengan sayap itu, hanya karena hembusan angin, sayap itu bisa robek.

Hatiku juga layu, layaknya sekuntum bunga mawar merah yang telah dipetik oleh seseorang yang tak bertanggung jawab, lalu membuangnya begitu saja hingga akhirnya layu dan kering.

Lalu apa yang harus aku lakukan...? Aku bukan tipe gadis yang suka mengejar-ngejar cinta yang tak pasti, apalagi sampai bersikap se-agresif mungkin agar aku bisa mendapat perhatian lebih darinya. Bukan... aku bukan gadis yang seperti itu.

Aku juga bukan seorang gadis yang akan melakukan apa saja demi mendapatkan cinta seorang pemuda yang kucintai, tapi aku juga bukan seorang gadis yang mudah mendekati seorang pemuda yang kucintai...!!!

Entahlah... Aku sendiri tak tahu pasti aku ini siapa bagi dirinya, aku tak tahu ia menganggapku sebagai siapa dalam hidupnya. Meskipun sahabatku berkata bahwa pemuda itu mungkin hanya mempermainkanku karena ia tak mau memperjuangkan cintanya terhadapku, tapi aku tetap tak mungkin bisa mempercayai hal itu, meskipun aku sadar bahwa mungkin ucapannya menunjukkan satu hal yang ia pahami akan posisiku.

Aku serasa menemukan sosok Naya yang pencemburu jika melihat seorang pemuda yang kucintai dekat dengan gadis lain, dalam arti lebih perhatian pada gadis lain. Aku juga menemukan sesosok Naya yang berkarakter penakut akan kehilangan seorang pemuda yang kucintai... Aku benar-benar menemukan sosok gadis yang bodoh dan tolol dalam diri Naya.

Huff... Kubiarkan saja itu terjadi pada diriku, aku tak peduli sampai kapan akan berlanjut... Tapi untuk saat ini, aku akan selalu merefresh pikiranku agar aku mampu kembali merasakan ketenangan meskipun tanpa kehadirannya disisiku...!

Mungkin... Memang aku harus mengikuti kata hatiku untuk terus bertahan dalam kondisi yang demikian, aku harus memfokuskan duniaku karena memang itulah yang mampu membuatku bertahan.

Antara Cinta dan Cita... Kalau aku mesti disuruh memilih salah satu dari itu, maka aku tak mungkin sanggup. Karena aku bisa meraih citaku karena ada sebuah cinta, dan aku bisa mendapatkan cinta karena citaku...

Hah... Lama-lama aku menjadi bingung mode On...!!!

Jumat, 15 Januari 2010

Ending Novel "Ingin Kubunuh Sahabatku"

* * *


Aku tak sengaja melihat mereka menelusuri tempat ini, aku tak tahu mau kemana mereka, kuikuti mereka layaknya seorang polisi yang membuntuti buronan, atau malah seperti seekor macan yang sedang mengincar mangsa. Dipertengahan jalan mereka terlihat menghentikan seseorang yang berkendara motor, itu pemuda yang pernah kuajak ke rumah Hana ketika aku menjenguknya. Alvino, untuk apa mereka menghentikan perjalanan pemuda itu, ada urusan apa hingga mereka pergi dengan Alvino. Aku tak tau mereka membiacarakan/menanyakan apa. Lihatlah… mereka terlihat serius.

Mereka berbalik arah, aku harus bersembunyi, aku tak mau mereka mengetahui keberadaanku. Tiba-tiba tanganku serasa ada yang menarik, ternyata Azka, sepertinya ia tahu bahwa aku butuh tempat persembunyian yang aman. Dibalik pagar tembok ini mereka pasti tak akan melihat kami.

Ternyata mereka lurus setelah mereka berbalik arah, bersama dengan pemuda bermotor itu menelusuri gang ini.

Aku mengikuti mereka, Azka menawarkan diri untuk ikut dalam penyelidikan ini, aku senang ia menawarkan diri untuk membantuku, aku mengiyakannya. Azka yang ternyata membawa motor pun kemudian menuntun motornya untuk mengimbangi langkahku yang pelan. Mereka berhenti didepan rumah Hana. Terlihat Hana langsung masuk ke dalam rumahnya, lalu Ryan, ia berlari lurus, mungkin ia mau menuju ke rumahnya, entah mau mengambil apa aku tak tahu.

“Lihatlah”. Azka mengeluarkan suaranya.

Ternyata Hana mengambil motornya, mereka masih berhenti didepan rumah Hana, setelah beberapa waktu lalu Ryan datang dengan mengendarai motornya. Akhirnya mereka meluncur, entah mau kemana aku tak tahu. Hana memboncengkan Lidia, sedang Nita menebeng Ryan, mereka lurus…

“Butuh tumpangan?”

“Sepertinya ini akan menjadi penelusuran yang seru”.

“Kau siap?”

Aku mengiyakan perkataanya lalu naik ke motornya, Azka tancap gas dari belakang mereka, mungkin jarak kami dengan mereka sekitar 10 meteran. Ternyata mereka mengikuti kemanapun motor Alvino melaju, aku yakin ini benar-benar seru…

Aku penasaran kemana mereka akan berhenti, dan mau dibawa kemana mereka sama Alvino, ini pasti sangat penting, aku yakin…

“Kau yakin akan mengikuti mereka”.

“Sudah sejauh ini apa aku harus memintamu untuk kembali?”

Ia tak membalasnya, mungkin ia hanya tersenyum mendengar jawabanku. Mungkin nggak ya Azka memikirkan hal yang sama denganku bahwa aku sangat penasaran mau dibawa kemana keempat sahabatku itu oleh Alvino.

Tanpa kusadari tiba-tiba aku ingat bahwa aku pernah menelusuri arah jalan ini, ketika itu aku sedang menuju ke sebuah tempat yang nyaman dimana tak ada satu orang pun yang menggangguku, karena waktu itu aku sedang bersedih.

Kudengar Azka seperti bertanya sesuatu padaku, karena aku tak terlalu mendengarnya, aku pun memintanya untuk mengulangnya sekali lagi supaya aku bisa menjawab pertanyaan yang baru saja ia lontarkan padaku.

“Kau tahu kemana arah jalan ini”.

“Aku pernah menelusuri jalan ini”.

Azka kembali diam, ia tak menjawabku, ia juga tak bertanya kemana sebenarnya arah jalan ini. Dalam hatiku selalu penuh Tanya, mau kemana mereka, mungkin seperti itu juga yang dipikirkan Azka.

Azka menghentikan kendaraanya setelah ia tahu bahwa mereka telah berhenti disuatu tempat. Itu tempat yang pernah kukunjungi, kini aku tahu bahwa mereka pasti sedang mencari persembunyianku dengan meminta bantuan dari Alvino.

“Kau tak ingin menghampiri mereka?”

“Temani aku”.

Azaka pun memintaku untuk kembali naik ke motornya, karena ia akan segera meluncur mendekati mereka. Hanya butuh waktu yang tak lebih dari setengah menit, Azka berhenti dan aku pun turun dari motornya. Aku tersenyum melihat mereka, terlihat mereka begitu kecewa karena tak mendapatiku.

“Kalian mencari sesuatu? Sepertinya kalian baru mengetahui persembunyian seseorang, tapi sayangnya seseorang yang kalian cari belum bisa kalian temukan, boleh aku menawarkan bantuan?”

“Tisna”.

“Saliza”.

“Indirani”.

“Tisna Saliza Indriani…”.

“Yup, that my name”.

Aku tak segera menghampiri mereka, karena merekalah yang terlebih dahulu menghampiriku. Terlihat dari raut wajah mereka seperti ingin mengatakan sesuatu.

“Cepatlah katakan, aku sudah tak sabar”.

Lidia tiba-tiba memelukku dengan erat, hingga nafasku terasa sesak didadaku. Sepertinya gadis ini telah menyadari kesalahannya dan sudah berhasil membunuh ego yang pernah mangkal didalam hati dan jiwanya.

“Jadi kau masih ingat aku?”

“Kau bercanda Saliza”.

“Aku tak tahu apa yang terjadi pada kalian hingga kalian menyadari bahwa aku masih membutuhkan kalian”.

Lidia, tiba-tiba ia menyodorkan sebuah buku sebesar klipingan tebal kepadaku setelah ia raih dari dalam tas cangklongnya. Aku tak tahu apa isi dalam buku ini, tanpa bertanya pada mereka aku langsung membukanya. Di halaman pertama kudapati sebuah judul dari buku ini, aku membacanya cukup keras.

“Sahabatku bukan penghianat”.

Aku begitu terkejut bahwa ternyata mereka punya naskah novelku versi cetak ini, padahal aku sendiri belum sempat mencetaknya. Aku penasaran darimana mereka bisa mendapatkan naskah ini, sedang naskah ini ada dalam komputerku.

“Mustahil kalau kalian punya ini”.

Aku benci ketika melihat mereka hanya tersenyum tanpa menjawab pertanyaanku, padahal aku benar-benar butuh penjelasan dari mereka darimana naskah ini bisa ada di tangan mereka.

“Darimana kalian mendapatkannya? Sedang aku yakin kalian tak tahu bahwa aku telah membuat novel ini”.

“Kau yakin ingin tahu darimana kami mendapatkannya?”

“Tentu saja Nit”.

“Pemuda yang mengantarkanmu kesiniliah yang memberikan naskah ini kepada kami”.

“Azka?”

Aku menoleh ke arah Azka setelah Hana memberitahuku, ternyata ia sudah berada disampingku sejak tadi, tapi aku baru menyadarinya.

“Kau masih ingat bahwa aku pernah mengatakan padamu bahwa aku akan membantumu, tapi tetap saja kau merasa yakin bahwa aku tak mungkin bisa membantumu. Aku yakin kamu pasti penasaran darimana aku mendapatkan naskah itu”.

“From where?”

“Kamu masih ingat bahwa aku pernah meminjam flashdiskmu?”

Mendengarnya aku pun mencoba mengingat-ingat kapan Azka meminjam flashdiskku, dan aku pun berhasil membuka memoriku.

So… you open my document?”.

“Maaf, tapi waktu itu aku benar-benar penasaran ingin tahu isi dari dokumen penting itu, meskipun bibirku mengatakan bahwa itu bukan hakku, tapi hatiku benar-benar penasaran ingin mengetahui isinya hingga akhirnya aku memberanikan diri untuk membukanya. Awalnya aku hanya membaca judulnya, tapi saat aku sadar bahwa itu adalah milikmu, akhirnya aku memutuskan untuk mencetaknya agar aku bisa santai membacanya. Aku sempat terkejut ketika kudapati beberapa cerita nyata dibagian yang membuat aku yakin bahwa novel itu adalah novel karanganmu yang mengisahkan dirimu dan sahabat-sahabatmu. Meskipun semua nama kau samarkan, tapi aku tetap bisa memahami tokoh-tokoh dalam novel itu termasuk pemuda yang pernah menjadi tambatan hatimu lima tahun silam”.

Kak Wisnu? Aku baru sadar bahwa aku juga memasukkan tokoh itu dalam novelku, tapi kenapa Azka harus membahas bagian yang itu juga.

“Sebenarnya waktu aku datang ke rumahmu beberapa hari yang lalu, aku sudah tahu isi novelmu, tapi aku sengaja tak membahasnya denganmu karena aku masih ingin menunggu yang lainnya sadar dari kesalahan mereka, aku ingin mereka mencerna isi dari novel yang kau buat itu. Lalu, tadi kami sempat datang ke rumahmu tapi kami tak mendapatimu. Kami mencari-cari keberadaanmu tapi tetap saja tak ketemu. Akhirnya dipertengahan jalan kami bertemu dengan pemuda ini dan kemudian menanyakan perihal keberadaanmu, siapa tahu pemuda ini mengetahui persembunyianmu. Dengan senang hati pemuda ini mau membantu kami, dan akhirnya sampailah kami di tempat sepi ini”. Jelas Nita panjang lebar padaku.

“Dan aku sengaja membuntuti kalian”.

Aku tak tahu kalau ternyata waktu itu ketika Nita datang ke rumahku ia sudah tahu tentang novelku ini, aku tak tahu kalau dari raut wajahnya yang menurutku aneh itu ternyata ia menyembunyikan hal ini kepadaku. Pantas aku tak mampu menebaknya, lalu aku menatap Lidia, wajahnya begitu haru dan merasa bersalah.

“Lidia, aku tahu kau pasti merasa bersalah padaku dan ingin meminta maaf, tapi aku tak ingin mendengar kata maaf darimu karena aku telah memaafkanku, sejak awal aku juga tak sungguh-sungguh menyalahkanmu meskipun aku selalu gonduk setiap kali kau melontarkan kata-kata yang menyakitkan hatiku”.

“Maaf Saliza, waktu itu aku benar-benar buta hati, tapi aku benar-benar minta maaf, masalah surat yang pernah kau berikan itu, karena aku tak memberitahukannya ke Nita dan Ryan, bahkan aku tak pernah membalasnya. Tapi perlu kau tahu bahwa aku masih menyimpan surat itu di rumahku”.

“Aku sudah tak memikirkan masalah itu”.

Tiba-tiba Hana menghampiriku, ia tersenyum manis padaku, Lidia yang melihatnya kemudian mengeluarkan beberapa kata yang membuatku sedikit terkejut.

“Aku tak akan melarang kalian untuk berhubungan lebih dari sahabat, karena aku bukan Tuhan”.

Aku terdiam, bukan perkataan itu yang ingin aku dengar dari bibir Lidia, bahkan aku tak pernah berharap untuk menjadi kekasih Hana, aku ini sahabatnya, jadi tak akan pernah pantas menjadi kekasihnya.

“Aku tahu kau tak akan pernah membalas cintaku, karena aku tahu bahwa aku sahabatmu, tapi ada satu masalah yang selalu mengganjal dihatiku. Aku tak suka ending dari novelmu, aku nggak suka ceritanya. Kenapa endingnya sang tokoh utama yaitu kau harus rela membiarkanku dimiliki Lidia. Mungkin kau punya feeling bahwa Lidia menyukaiku, tapi sebenarnya dia tak pernah mencintaiku”.

“Oh ya?”

Aku tak tahu bahwa ternyata feelingku itu salah besar, kini aku baru sadar tentang satu hal Bahwa ternyata tak selamanya feeling itu selalu sesuai dengan kenyataan, intinya feeling itu bisa saja salah.

“Saliza, sory… kemarin ketika Azka memberikan naskah novel itu kepada kami, aku sempat menolak, bahkan aku sempat berkata seperti ini “Untuk apa? Itu bukan urusan kami”. Tapi Azka sempat mengatakan sesuatu seperti ini “Sepertinya kau yang harus pertama membaca isi naskah ini”. Yang sejak awal aku menolak, akhirnya aku mau menerima naskah itu karena aku cukup penasaran dengan ucapan Azka”.

“Begitu kah?”

“Dan akhirnya Nita menyarankan agar kami membaca bersama, salah satu dari kami ada yang membacanya dan yang lainnya mendengarnya, secara bergantian, sesekali kami memberikan beberapa komentar atas isi dari novelmu ini”. Tambah Ryan.

“Aku suka novelmu”. Puji Nita padaku.

“Tapi aku sempat heran sejak kapan kau kembali ke dunia tulis menulis itu”.

“Aku rindu pada duniaku itu, dan hasrat untuk kembali menulis tiba-tiba menggebu di benakku, dan akhirnya akupun mampu menyelesaikan naskah itu dalam waktu kurang dari satu bulan”.

“Boleh aku beri sedikit saran?” Azka mulai kembali mengangkat suara.

“Saran apa Ka?”

“Sepertinya ending dari novelmu itu mesti kau benahi”.

Usul Azka benar-benar membuatku tersenyum, mereka juga sangat setuju dengan usul pemuda tampan ini.

“Hey, why you silent? Kau pikir sedang nonton bioskop?”

Pemuda yang kutegur itu hanya tersenyum, aku benar-benar sadar bahwa Alvino sedang menyaksikan peristiwa ini. Lalu kuucapkan rasa terima kasihku yang mendalam kepadanya karena telah membawa keempat sahabatku kesini.

By the way, apa kabarnya Eliana? Apa kalian sudah menjadi teman baik?”

Mendengarnya Alvino hanya tersenyum, tapi senyumannya itu bukan sebuah senyuman yang mengisyaratkan bahwa ia senang, lebih tepatnya itu sebuah senyuman kecut.

“Sepertinya aku tak akan pernah melihatnya lagi”.

“Maksud kamu?”

“Dia sudah jauh”.

“Aku semakin tak mengerti dengan perkataanmu, bisakah kau jelaskan lebih detail?”

“Eliana sudah pindah keluar kota untuk selamanya bersama keluarganya”.

Aku tersenyum mendengarnya, aku tak percaya ia mengatakan hal itu, lihatlah… Eliana sedang berada dibelakangnya, tapi Eliana meminta agar aku maupun yang lainnya diam alias tak memberitahu keberadaannya saat ini. Aku jadi semakin penasaran dengan mereka, apa maksud semua ini.

“Apa kau punya rasa terhadapnya?”

“Jangan bercanda”.

“Aku serius”.

“Kalaupun iya, toh ia tak mungkin membalasnya, apalagi kembali kesini, mustahil”.

“Siapa bilang aku tak kembali kesini? Apa kau tak bisa melihat gadis dibelakangmu ini?”

“Eliana…!”

Pemuda yang berada dihadapanku ini benar-benar sangat terkejut melihat keberadaan Eliana yang tiba-tiba muncul dibelakangnya, mungkin ia seperti tak percaya masih bisa melihat gadis cantik itu, mungkin benar kalau pemuda ini menyukainya.

“Sejak kapan kau ada disitu?”

“Sejak kau mengatakan bahwa kau tak akan pernah melihatku”.

“Jadi kau mendengarnya?”

“Mendengar apa?”

“Yang tadi”.

“Aku tak mengerti dengan ucapanku”.

“Jangan bercanda”.

“Tapi aku suka bercanda”.

Sepertinya ini akan menjadi sebuah ending yang sangat indah, aku berjanji akan menghapus ending di novelku dengan mengganti ending yang baru saja datang ini.

“Aku rasa kita harus kembali, biar Alvino dan Eliana menyelesaikan percakapan mereka”.

“Kalian akan kembali?”

“Tentu”.

“Kau tega melihatku gugup seperti ini…”.

“Hey, ayolah Alvin… kau seorang pemuda yang pemberani”. Aku membalasnya sambil memberikan sebuah senyuman penyemangat untuknya.

“Tapi tidak untuk saat ini”.

“Kau jangan bercanda”.

“Kali ini aku serius kak Saliza”.

“Apa? Kau panggil aku kak?”

“Karena kau kakak kelasku”.

“Hmmzz.. jadi kau sudah tahu, oky… selamat menikmati”.

Aku pun meninggalkan mereka berdua, Eliana bersana Alvino, aku tak ingin menggangu mereka, keempat sahabatku mengikutiku dari belakang, begitu juga dengan Azka.

“Kau ingin menawariku untuk memberikan tumpangan padaku?”

“Tentu… silakan naik”.

Mendengarnya keempat sahabatku tertawa, aku tak tahu apa yang mereka tertawakan, karena aku rasa tak ada yang lucu dari perkataanku maupun perkataan Azka.

Akupun menawarkan mereka untuk berkumpul di rumahku, mereka menyetujui saranku. Kemudian kami tancap gas menuju ke rumahku, rasanya hatiku begitu tenang dan nyaman, aku lega karena masalahku dengan keempat sahabatku telah terselesaikan dengan baik, ini benar-benar akhir cerita yang indah dalam hidupku.

Setengah jam lebih kami menelusuri jalur yang sama, akhirnya kami sampai di rumahku. Mereka memarkir motor mereka di halaman rumahku, aku tersenyum melihat kebersamaan ini. Mereka pun langsung menuju ke rumahku, kemudian leyeh-leyeh di teras rumahku yang berkeramik ini. Lihatlah Ryan, ia langsung merebahkan tubuhnya, sepertinya ia juga lega dengan permasalahan yang telah terselesaikan ini. Bukan hanya aku maupun Ryan saja, tapi juga Hana, Lidia dan Nita, lalu Azka…? Sejak tadi sepertinya ia tak bisa berhenti tersenyum, persis seperti orang yang tengah mendapatkan kebahagiaan yang tiada tara hingga ia tak bisa melupakannya.

Lihatlah… pemuda itu datang menengahi kebahagiaan kami, ternyata ia masih berani menemuiku setelah beberapa hari ini aku tak melihatnya. Bersama dengan mas Dennis ia menghampiri kami berenam, sepertinya mereka baru saja ngobrol di rumah mas Dennis. Mereka menebarkan senyuman ke kami, tapi aku tak bisa membalas senyuman itu, aku tak mau ia melihat senyuman termanisku yang pernah ada.

Aku tak tahu, kira-kira apa yang ada dalam pikiran sahabat-sahabatku termasuk Azka, apakah mereka memikirkan sesuatu yang aneh terhadap pemuda ini atau bagaimana, mereka diam, tapi mereka memberikan senyuman manis kepada kedua pemuda itu.

“Begitu mahalkah untuk mendapatkan sebuah senyuman darimu?”

Ia menanyakan sesuatu yang tak mampu aku jawab, kenapa juga ia harus bertanya seperti itu, ia terlalu basa basi, ia juga terlalu mempermasalahkan senyumanku.

“Kau tak mungkin bisa menghindar dariku”.

“Karena aku memang tak akan menghindar”.

“Kau menantangku”.

“Benar, aku memang menantangmu”.

“Kau tak takut?”

“Kenapa aku harus takut?”

“Karena aku telah berhasil menggali perasaanmu yang sudah pernah kau kubur dalam-dalam itu”.

“Kau terlalu yakin”.

Aku tersenyum miris, pemuda ini benar-benar terlalu yakin bahwa aku tak mampu bertahan dan ia telah berhasil menggali perasaanku yang pernah kukubur dalam-dalam itu. Aku heran, bagaimana mungkin pemuda ini bisa seyakin itu.

Suasana ini benar-benar terasa begitu hening bagiku, keheningan ini membuatku semakin tak tahu harus bersikap seperti apa didepan pemuda ini. Apa mungkin mas Dennis telah menceritakan curhatanku kepada pemuda yang pernah kucintai ini.

“Mas Dennis…”.

“Maaf Saliza, tapi Wisnu memang harus tahu”.

“Jadi mas Dennis membocorkannya?”

“Aku hanya ingin kalian bersatu”.

“Apa mas kira aku akan bahagia? Aku tak ingin terluka untuk yang kedua kalinya”.

“Saliza, kau tak akan mungkin bisa melupakannya”.

“Azka, darimana kau bisa yakin bahwa aku tak akan mungkin bisa melupakan sosok pemuda dihadapanku ini”.

“Coba kau buka novelmu, kalau nggak salah di halaman 51, kau bacalah pada paragraph terakhir”.

Aku pun mengikuti saran pemuda ini, kubuka novel halaman 51, aku pun kemudian membaca tulisan pada paragraph terakhirnya dengan nada dasar hingga mereka benar-benar mendengarnya dengan jelas.

“Aku benci saat tiba-tiba aku merindukannya seperti ini, aku benci saat aku memikirkannya seperti ini. Padahal aku ingin membuktikan padanya bahwa aku tak akan terjerat lagi kedalam pesona yang ia siratkan pada diriku. Dia benar-benar hebat, mampu membuatku kembali jatuh cinta padanya. Aku benar-benar gila dibuatnya, harusnya ia tak usah muncul dalam kehidupanku kembali, harusnya aku tak perlu mengingatnya kembali. Harusnya dia lenyap dari kehidupanku setelah ia pergi meninggalkanku begitu saja, aku tak perduli sekalipun ia pergi meninggalkanku untuk selamanya, tapi sepertinya aku tak akan mungkin bisa melupakannya”.

Aku baru sadar bahwa aku telah memasukkan kalimat ini kedalam novelku, aku benar-benar terjebak dalam permainanku sendiri, sekarang apa yang harus aku lakukan setelah aku merasa malu.

“Kau jangan pernah malu karena pernah menulis kalimat itu dinovelmu”.

“Azka, aku benci karena kau selalu bisa menebak pikiranku”.

Ia hanya tersenyum, harusnya ia membantuku untuk menutupi rasa maluku ini, entah mau kutaruh dimana mukaku ini, aku sudah terlanjur memperlihatkannya pada pemuda yang bernama Wisnu Danu prasetya ini.

Tapi aku harus bisa menghadapi pemuda misterius ini, harusnya aku bisa melacak karakter pemuda ini sebelum aku menantang keberaniannya.

“Saliza, harusnya kau rela membiarkan perasaanmu itu mengalir dengan sendirinya”.

“Apa maksud kamu?”

“Kalau kau memang masih mencintaiku, kau tak akan mungkin bisa membohongi perasaanmu sendiri, karena cintamu itu bukan sebuah paksaan”.

“Kalau memang begitu, lalu apa maumu?”

“Aku hanya ingin kau jujur pada hatimu jika kau memang masih punya perasaan terhadapku”.

“Jangan bercanda”.

“Apa wajah dan kedua mataku benar-benar terlihat bercanda dimatamu?”

“Ayolah… kau jangan membuatku semakin terpojok”.

“Aku senang kau mengakui hal itu”.

“Dan kau puas melihatku seperti ini?”

Ia hanya tersenyum, pemuda ini benar-benar penjahat dalam hidupku, dia ibarat seorang musuh yang telah menang dalam sebuah peperangan.

Kini aku benar-benar menyadari satu hal, Bahwa hati memang tak bisa berbohong pada diri sendiri. Aku juga benar-benar telah menyadari akan perasaanku ini terhadap pemuda ini, ia benar-benar mengalahkanku.

“Kau menang”.

“Ini bukan masalah menang ataupun kalah, tapi masalah perasaan”.

Kini, keheningan berubah menjadi sebuah kenyataan yang pasti, kenyataan yang tak mampu aku hindari, aku tak bisa berlari menghindarinya, kenyataan yang benar-benar terjadi dalam hidpuku, dan aku harus mempercayai kenyataan ini, dan itu yang aku benci.

“Apa kau masih mau mengelak dari perasaanmu itu?”

“Saliza, kau harus tahu satu hal bahwa Wisnu kembali hanya untukmu, untukmu seorang Za”.

“Untukku seorang?”

Bernarkah yang dikatakan mas Dennis bahwa pemuda ini memang kembali hanya untukku? Itu tandanya ia tak pernah melupakanku, dan aku selalu ada dalam hati, jiwa dan pikirannya. Apakah mungkin aku bisa mempercayai ucapan mas Dennis barusan.

“Kau tak percaya?”

Aku menggelengkan kepalaku, bukan karena aku tak percaya, tapi karena aku sendiri belum tahu pasti harus mempercayainya atau tidak.

“Apa kau masih sakit hati padaku?”

“Seharusnya kau menyadari hal itu”.

“Tak bisakah kau memaafkanku?”

“Sulit bagiku untuk melupakannya”.

“Lalu apa yang harus aku lakukan agar kamu bisa memaafkanku”.

“Aku akan semakin sakit jika kau masih ada dalam kehidupanku”.

“Jadi harapanmu adalah untuk melenyapkanku?”

“Harusnya kau tahu itu”.

“Jadi jalan satu-satunya agar kamu bahagia memang itu? Tapi aku tak mungkin bisa ikhlas kehilangan dirimu untuk yang terakhir kalinya, tak bisakah kau memberikanku sebuah kesempatan?”

“Sepertinya kesempatan itu bukan untukmu”.

“Jadi kau benar-benar ingin mengusirku dari kehidupanmu?”

“Forever”.

Setelah mengatakan hal itu, tiba-tiba salah satu sahabatku menarik tanganku, Hana… apa yang ia lakukan? Wajahnya terlihat begitu serius, sepertinya ia mau mengatakan sesuatu hal penting padaku.

“Kau jangan mengatakan sesuatu yang bisa membuat dirimu menyesal, kalau kau menyuruh kak Wisnu pergi, maka selamanya kau akan sengsara karena tak bisa memilikinya, karena aku yakin kau tak akan bisa melupakannya”.

“Lalu bagaimana dengan perasaanmu terhadapamu? Kau pasti akan terluka”.

“Aku tak pernah serius mencintaimu”.

“Kau bohong”.

“Aku serius”.

“Jadi kau hanya bercanda? Keterlaluan…”.

“Dengarkan aku, kau itu beruntung bisa dicintai oleh pemuda seperti kak Wisnu”

Aku tak mengerti dengan pernyataanya ini, apa ia tak tahu bahwa aku sengsara karenanya, jadi mana mungkin bisa dibilang beruntung, mustahil.

“Jelaskan padaku maksud dari perkataanmu itu”.

“Kau mencintainya, diapun mencintaimu”.

“Intinya?”

“Tak semua orang seberuntung kamu yang bisa memiliki seseorang yang dicintaiya, jadi kau harus mempertahankan kak Wisnu”.

“Mempertahankannya? Untuk apa aku mempertahankannya?”

Lihatlah… Azka hanya diam, aku tak tahu apa yang ia pikirkan, begitupun dengan Nita, Ryan dan Lidia. Lalu mas Dennis dan kak Wisnu, mereka berdua menanatap ke arahku dengan tatapan mata yang cukup tajam. Mungkin mereka bertanya-tanya pada diri mereka sendiri apa yang sedang kami bahas.

“Kau harus yakin bahwa memang kak Wisnu adalah cinta sejatimu”.

“Sejak dulu aku tak pernah percaya dengan cinta sejati”.

“Paling tidak calon suami, pendamping hidup atau mungkin jodoh”.

“Aku belum memikirkannya sampai sejauh itu”.

“Oky, kalau gitu orang yang paling kau cintai yang bisa membahagiakanmu”.

“Tanpanya aku bahagia bersama kalian”.

“Ayolah… pikiranmu jangan kau buat dangkal”.

“Kau mengejekku”.

“Sekarang sebaiknya kau hampiri dia dan katakan padanya bahwa kau memberikan kesempatan untuknya”.

“Aku tak mau”.

“Kau harus mau”.

“Jangan coba-coba memaksaku”.

“Kalau begitu biar aku saja yang membertahukannya”.

“Jangan…!”

“Kalau begitu kau yang harus mengatakannya”.

“Aku bilang jangan memaksaku”.

“Kau benar-benar susah diatur, oky… aku tak akan memaksamu”.

Setelah itu aku meninggalkannya, lalu menghampiri kak Wisnu, tepat didepannya, meskipun hatiku merasa gugup dan gerogi, tapi aku mencoba mengendalikan emosiku dan menyeimbangkan keadaanku, dan aku harus bertahan karena telah terjebak dalam situasi seperti ini.

“Kau butuh kesempatan kan? Kau beruntung karena aku masih mau memberikanmu kesempatan”.

“Ini bukan semata-mata karena demi sahabatmu kan?”

“Ini murni demi perasaanku terhadapmu, jadi kau jangan sampai berpikiran seperti itu”.

Lihatlah… kak Wisnu tersenyum senang, begitupun dengan yang lainnya. Mereka benar-benar terlihat senang mendengar perkataanku, sepertinya mereka mendukung.

“Aku mencintaimu Saliza”.

“Jangan bercanda”.

Aku tersenyum setelah menjawab perkataan kak Wisnu, begitupun dengan yang lainnya, mereka bersedia mengembangkan bibir mereka kembali. Untuk yang terakhir kalinya, sepertinya aku benar-benar sangat bahagia.

Kini aku mendapat satu pelajaran berharga dari mereka, Bahwa memberikan sebuah kesempatan kepada seseorang adalah sama halnya dengan memberikan sebuah kebahagiaan yang tiada tara kepada orang itu.

So… untuk semuanya, aku hanya ingin berpesan, bahwa dimanapun dan sampai kapanpun, sahabat adalah keluarga yang tak akan pernah bisa menjadi bekas ataupun seorang mantan. Jadi intinya di dunia ini tak ada kata “Mantan Sahabat”, dan keinginanku untuk membunuh jiwa merekapun telah berhasil mereka lakukan sendiri.

* T A M A T *